Menelusuri Jejak KH. Muhammad Said Daeng Manessa: Tokoh NU Sulawesi Selatan

Oleh: Zaenuddin Endy
Koordinator Instruktur PKPNU Sulawesi Selatan

Nama KH. Muhammad Said Daeng Manessa mungkin tidak banyak disebut dalam panggung sejarah besar Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia, namun jejak pengabdiannya meninggalkan bekas yang kuat, khususnya di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Dalam catatan administratif, namanya memang lebih sering ditulis singkat sebagai Said Dg. Manessa, tetapi menurut penuturan keluarganya, nama lengkap beliau adalah Muhammad Said Dg. Manessa. Ia dikenal sebagai sosok yang tekun, sederhana, dan istiqamah dalam menjaga nilai-nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah di tengah perubahan zaman.

Dalam perjalanan hidupnya, KH. Muhammad Said Dg. Manessa dikenal sangat dekat dengan para ulama besar Sulawesi Selatan. Salah satu tokoh yang rutin beliau kunjungi adalah Anregurutta KH. Hafid Yusuf, yang saat itu menjabat Ketua NU Ujungpandang pada era 1950-1960-an. Rumah KH. Hafid Yusuf di kawasan Ujungpandang menjadi tempat yang akrab bagi beliau, bukan hanya sebagai bentuk silaturahim, tetapi juga untuk membicarakan berbagai persoalan dakwah dan pendidikan Islam. Kedekatan ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan antara beliau dengan jaringan ulama NU yang menjaga marwah keilmuan dan tradisi pesantren di Sulawesi Selatan.

Tak hanya dengan KH. Hafid Yusuf, KH. Muhammad Said Dg. Manessa juga dikenal memiliki hubungan yang hangat dengan Anregurutta KH. Muhammad Nur, salah satu ulama kharismatik yang disegani di Sulawesi Selatan. Hubungan ini bukan semata relasi pribadi, melainkan bagian dari jaringan intelektual dan spiritual yang saling menguatkan di tengah gelombang perubahan sosial-keagamaan yang terjadi di masa itu. Kedekatan dengan para tokoh besar tersebut semakin mengukuhkan posisinya sebagai bagian dari barisan penting penggerak NU di kawasan timur Indonesia.

Di bidang birokrasi pendidikan, KH. Muhammad Said Dg. Manessa juga mencatatkan dedikasi panjang. Sebelum mengemban amanah di Sulawesi Tenggara, beliau lebih dahulu menjabat sebagai Kepala Inspeksi Pendidikan Islam di wilayah Sulawesi Selatan. Jabatan ini menunjukkan kepercayaan besar negara terhadap kapasitas keilmuan dan integritas beliau dalam membina pendidikan agama, khususnya dalam konteks pasca kemerdekaan yang tengah giat menata ulang lembaga-lembaga pendidikan keagamaan di daerah.

Puncak karier birokrasi beliau tercatat di Sulawesi Tenggara, tempat beliau mengabdi hingga pensiun sebagai Kepala Inspeksi Pendidikan Agama. Meski berpindah tugas secara administratif, jalinan silaturahim dan semangat ke-NU-an yang beliau tanam di Sulawesi Selatan tetap terpelihara. Hubungan beliau dengan para ulama NU tetap erat, bahkan menjadi salah satu penghubung penting antara jaringan ulama Sulsel dengan perkembangan Islam di Sultra, khususnya dalam penguatan pendidikan agama di daerah tersebut.

Dalam pandangan keluarga, KH. Muhammad Said Dg. Manessa adalah sosok yang sederhana, bersahaja, dan penuh keteladanan. Ia tidak hanya mengajarkan Islam secara lisan, tetapi mewujudkannya dalam praktik kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat luas. Sosoknya dikenal berdisiplin tinggi dalam urusan agama dan selalu mengutamakan adab dalam setiap pergaulan, baik dengan sesama ulama, pejabat pemerintahan, maupun masyarakat kecil.

Kiprah beliau di NU Sulawesi Selatan bukan hanya dalam aspek struktural, tetapi lebih pada peran kultural yang mengakar. Melalui silaturahim, diskusi keagamaan, dan keteladanan pribadi, beliau turut menguatkan fondasi NU sebagai benteng Ahlussunnah wal Jamaah di kawasan ini. Hal ini semakin mengukuhkan posisi beliau sebagai tokoh yang meskipun tidak selalu tampil di panggung utama, namun memiliki peran strategis yang tak terhapuskan dalam sejarah.

Di antara warisan penting beliau adalah etos keikhlasan dan pengabdian tanpa pamrih dalam membangun umat. Di tengah keterbatasan fasilitas dan tantangan zaman, beliau tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, baik sebagai birokrat pendidikan maupun sebagai tokoh masyarakat. Spirit ini patut dicontoh oleh generasi muda, terutama mereka yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan Islam.

Hingga akhir hayatnya, KH. Muhammad Said Dg. Manessa tetap dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan bersahaja. Meski telah lama wafat, namanya tetap harum di lingkungan para ulama dan masyarakat yang pernah bersentuhan langsung dengan jejak pengabdiannya. Anak-anak dan keluarganya menyimpan kebanggaan mendalam atas warisan nilai yang beliau tanamkan selama hidupnya.

Jejak KH. Muhammad Said Dg. Manessa menegaskan bahwa peran ulama tidak selalu diukur dari seberapa besar popularitasnya, melainkan seberapa luas dan dalam pengaruhnya dalam membangun umat dan menguatkan tradisi keilmuan Islam. Ia adalah contoh nyata ulama yang teguh menjaga akidah, berkhidmat lewat jalur pendidikan, dan mengikat silaturahim dalam barisan ulama demi menjaga marwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah di tanah Sulawesi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *