MAKASSAR – Badruddin Kaddas, S.Ag., M.Ag., Ph.D baru saja dilantik sebagai Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Sulawesi Selatan Periode 2024-2029 di Balai Diklat Kementerian Agama (Kemenag) Makassar, Sabtu (19/7/2025).
Badruddin LPTNU menyadari ini merupakan tanggung jawab yang cukup besar. Dirinya menyampaikan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) tidak hanya menjadi pusat keilmuan.
“Tetapi juga garda depan dalam melestarikan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sekaligus menjawab tantangan zaman,” ucap Badruddin melalui keterangannya.
Dia mengatakan, di Sulsel, potensi pengembangan PTNU sangat besar, mengingat besarnya dukungan masyarakat NU dan kebutuhan akan pendidikan tinggi yang berkualitas, berkarakter, dan berbasis kearifan lokal.
Dia menyebut, Perguruan Tinggi NU memiliki misi unik, yakni memadukan keilmuan modern dengan nilai-nilai Islam wasathiyah (moderat) yang diusung NU.
“Di Sulawesi Selatan, hal ini harus diperkuat dengan kurikulum yang relevan, baik untuk penguatan keislaman maupun pengembangan sains, teknologi, dan seni,” jelasnya.
“Tujuannya adalah melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga berakhlak mulia, berjiwa sosial, dan siap berkontribusi untuk kemajuan umat dan bangsa,” katanya.
Adapun strategi pengembangan PTNU di Sulawesi Selatan diantaranya. Pertama, Peningkatan Kualitas Akademik dan SDM. Yakni memperkuat akreditasi program studi dengan meningkatkan kualitas dosen, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Kemudian membangun kerja sama dengan PTNU lain di Indonesia serta perguruan tinggi nasional/internasional untuk pertukaran ilmu dan pengalaman.
Kedua, Penguatan Keuangan dan Infrastruktur. Yakni mengoptimalkan sumber pendanaan melalui kerja sama dengan pemerintah, swasta, dan donatur NU. Dan membangun fasilitas kampus yang memadai, termasuk laboratorium, perpustakaan digital, dan ruang kuliah yang modern.
Ketiga, Relevansi dengan Kebutuhan Masyarakat. Diantaranya mengembangkan program studi yang sesuai dengan potensi daerah, seperti agribisnis, kelautan, ekonomi syariah, dan teknologi informasi.
Selanjutnya memperkuat keterlibatan kampus dalam pengabdian masyarakat, seperti pendampingan LPTNU, pendidikan pesantren, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Keempat, Integrasi Nilai Aswaja dan Kearifan Lokal. Diantaranya menjadikan PTNU sebagai pusat kajian Islam moderat yang menebarkan nilai toleransi dan kebhinnekaan.
Kemudian menggali kearifan lokal Sulawesi Selatan, seperti budaya Bugis-Makassar yang sarat nilai Islam, untuk memperkaya khazanah akademik.
Kelima, Digitalisasi dan Inovasi Pembelajaran. Yakni
menerapkan sistem pembelajaran berbasis digital untuk menjangkau lebih banyak mahasiswa, termasuk dari daerah terpencil.
Wakil Rektor II UIM Al-Gazali ini menuturkan, upaya untuk mengembangkan riset inovatif yang mendukung sustainable development goals (SDGs) harus dibangun dengan semangat kolaborasi dengan semua pihak.
Pengembangan PTNU tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan sinergi dengan Pemerintah Daerah. Untuk dukungan regulasi dan pendanaan, PWNU dan PCNU Sulsel sebagai penggerak jaringan pesantren dan masyarakat NU.
“Dunia Usaha/Industri, untuk penyerapan lulusan dan pengembangan program studi yang relevan.
Kemudian alumni, sebagai mitra dalam pengembangan kampus dan jejaring profesiona,” sebutnya.
Olehnya itu, ia mengatakan, Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama di Sulsel harus menjadi mercusuar pendidikan yang memadukan kecerdasan intelektual, spiritual, dan sosial.
“Dengan semangat “al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” (melestarikan tradisi yang baik dan mengadopsi inovasi yang lebih baik), mari kita bersama-sama membangun PTNU yang unggul, berkemajuan, dan bermanfaat bagi semua. Bersama NU, Kita Wujudkan Pendidikan Tinggi yang mencerahkan dan memberdayakan,” pungkasnya. (*)






