Belajar ‘Baku Jaga’ dari Tellumpoccoe: Menanam Batu, Menjaga Etika Informasi

Oleh: Badruddin Kaddas

(Wakil Rektor II UIM Al-Ghazali / Dosen Komunikasi & Penyiaran Islam FAI UIM)

Bacaan Lainnya

​Pernahkah Anda membayangkan bagaimana para leluhur kita menyelesaikan konflik besar tanpa tumpah darah? Jawabannya ada di sebuah situs bersejarah yang secara fenomenal dikenal Tellumpoccoe di Timurung. Meskipun saat ini, setelah adanya pemekaran wilayah, situs sakral tersebut secara administratif berada di Desa Allamungeng Patue, Kecamatan Ajangale, Bone.

​Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, situs ini bukan sekadar tumpukan batu. Ia adalah saksi bisu lahirnya Perjanjian Tellumpoccoe tahun 1582. Sebagai akademisi di bidang Komunikasi Islam, saya melihat Tellumpoccoe adalah “laboratorium diplomasi” paling canggih yang pernah dimiliki bangsa ini.

Diplomasi ‘Kakak-Adik’ di Timurung

​Di Desa Timurung inilah, tiga kerajaan besar—Bone, Wajo, dan Soppeng—bersepakat untuk mengakhiri rivalitas dengan narasi kekeluargaan. Mereka memosisikan diri sebagai Satu Tua (Bone), Satu Tengah (Wajo), dan Satu Bungsu (Soppeng).

​Ini bukan soal siapa yang lebih berkuasa, melainkan soal tanggung jawab moral. Dalam komunikasi politik, ini adalah strategi jenius untuk meredam ego. Mereka tidak lagi bicara “aku” atau “kamu”, tapi bicara tentang “kita” sebagai satu keluarga.

Filosofi Siyame’ Tali Tellu

​Salah satu poin yang paling menggetarkan dalam perjanjian ini adalah prinsip Siyame’ Tali Tellu atau Tali Berpilin Tiga. Naskah Lontara mencatat bahwa kesepakatan ini mengikat tiga entitas menjadi satu kekuatan yang solid.

​Secara simbolik, sehelai tali mungkin mudah diputus. Namun, jika tiga helai dipilin menjadi satu, ia akan menjadi ikatan yang sangat kuat. Di era disrupsi saat ini, bukankah kita butuh “pilinan” yang sama untuk menjaga persatuan bangsa dari gempuran hoaks dan polarisasi?

‘Malilu Sipakainge’: Antitesis Hoaks dan Fitnah

​Pesan yang paling relevan bagi dunia informasi kita hari ini adalah etika Malilu Sipakainge—saling mengingatkan saat ada yang khilaf atau lupa.

​Dalam dunia penyiaran Islam, ini adalah perwujudan nilai Tabayyun. Di media sosial, sering kali kita lebih cepat menghakimi daripada mengingatkan. Tellumpoccoe mengajarkan bahwa fungsi komunikasi yang paling luhur adalah menjaga saudara agar tidak terjatuh (Rebba Sipatokkong), bukan justru menertawakan kegagalannya.

Integritas yang ‘Ditanam’ di Allamungeng Patue

​Nama Desa Allamungeng Patue tempat prasasti itu kini berdiri secara harfiah berarti “Tempat Menanam Batu”. Para leluhur kita “menanam” janji mereka pada batu prasasti. Mengapa batu? Karena batu adalah simbol keabadian dan keteguhan.

​Di zaman sekarang, informasi sangat mudah dimanipulasi—diketik sekarang, dihapus semenit kemudian. Tellumpoccoe mengingatkan kita bahwa sebuah kata-kata, apalagi sebuah janji, haruslah memiliki integritas yang kuat. Sekali terucap dan tertulis, ia menjadi saksi sejarah yang tidak boleh dikhianati oleh kepentingan sesaat.

Penutup: Kompas Moral untuk Kita

​Menziarahi situs di Timurung (kini Allamungeng Patue) adalah upaya menjemput kembali martabat komunikasi kita. Nilai Sipakatau (memanusiakan manusia) yang ada di sana harus menjadi napas dalam setiap narasi penyiaran yang kita bangun hari ini.

​Mari kita jadikan warisan luhur ini sebagai kompas moral. Agar komunikasi kita tidak hanya sekadar bicara, tapi juga membangun; tidak hanya sekadar menyiarkan, tapi juga menyatukan. Sebab, di atas tumpukan batu itu, tertanam sebuah pesan abadi: bahwa kedamaian dimulai dari cara kita berkomunikasi secara jujur dan bersaudara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *