Oleh:Zaenuddin Endy (Koordinator Lajnah Ta’lif Wa An Nasyr Thariqiyah Imdadiyah JATMAN Sulawesi Selatan)
AGH. Muhammad As’ad al-Bugisi adalah salah satu ulama besar Sulawesi Selatan yang pengaruhnya terasa hingga hari ini, terutama melalui lembaga pendidikan As’adiyah yang beliau dirikan. Jejak intelektual dan spiritual beliau tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidup di Mekah, tempat beliau menimba ilmu agama sejak kecil. Pendidikan di kota suci itu menanamkan pemahaman Al-Qur’an, hadis, fikih, dan tasawuf yang menjadi fondasi dakwah dan pendidikan beliau di tanah Bugis. Di sana pula beliau berinteraksi dengan ulama tarekat, khususnya Tarekat As-Sanusiyah, yang kelak memengaruhi cara pandang beliau terhadap tasawuf.
Kedekatannya dengan tradisi tarekat tidak berarti bahwa beliau kemudian mendirikan atau memimpin sebuah tarekat baru. Sebaliknya, beliau menempatkan tarekat sebagai bagian dari jalan spiritual pribadi yang bertujuan pada tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, bukan sebagai institusi keagamaan tersendiri. Hal ini selaras dengan arus besar pendidikan Islam di Mekah pada awal abad ke-20 yang berupaya menyeimbangkan antara syariah dan tasawuf. Dari sini terlihat bahwa pemahaman beliau terhadap tarekat lebih bersifat praksis, yakni menekankan pada moralitas, wirid, dan sikap hidup yang lurus.
Kembali ke tanah Bugis, AGH. Muhammad As’ad mendirikan pengajian kecil di rumahnya di Singkang yang kemudian berkembang menjadi Madrasah Arabiyah Islamiyah pada tahun 1930. Pengajian model halaqah atau mangaji tudang ini mirip dengan metode pengajaran tarekat: dekat, personal, dan penuh interaksi langsung antara guru dan murid. Walau demikian, isi pengajarannya bukan dzikir tarekat semata, melainkan tafsir Al-Qur’an, hadis, fikih, dan dasar-dasar akidah. Corak inilah yang menjadikan As’adiyah berbeda—menggabungkan kedalaman spiritual dengan keteguhan syariah.
Dalam aspek tasawuf, AGH. Muhammad As’ad menekankan nilai-nilai seperti wara’, tawakkul, ikhlas, dan ridha. Nilai-nilai ini sejatinya adalah inti dari tarekat, hanya saja beliau tidak membungkusnya dalam struktur organisasi sufi. Dengan cara demikian, beliau berhasil memasukkan dimensi sufisme ke dalam pendidikan mainstream tanpa menimbulkan resistansi sosial. Konteks masyarakat Bugis kala itu yang masih kental dengan kepercayaan tradisional menuntut pendekatan yang hati-hati, dan AGH. As’ad berhasil menempatkan tasawuf sebagai jalan etika, bukan sebagai gerakan mistik yang terpisah dari syariah.
Keberpihakan beliau pada tasawuf sunnah juga tercermin dalam sikap kritis terhadap praktik tarekat atau adat yang menyimpang. Beberapa bentuk ritual yang bercampur dengan takhayul beliau luruskan dengan pendekatan persuasif. Misalnya, beliau menolak tradisi pemujaan kuburan keramat yang dianggap melampaui batas, karena berpotensi menyeret masyarakat pada syirik. Akan tetapi, beliau tetap mengakomodasi tradisi lokal sejauh tidak bertentangan dengan syariah. Inilah yang membuat dakwah beliau diterima luas dan tidak menimbulkan konflik besar.
Salah satu keistimewaan dakwah AGH. Muhammad As’ad adalah menanamkan keseimbangan antara ilmu syariah dan tasawuf. Beliau menyadari bahwa syariah tanpa tasawuf akan kering, sedangkan tasawuf tanpa syariah akan menyimpang. Dengan demikian, model pendidikan beliau di As’adiyah bukan hanya melahirkan ulama fikih, tetapi juga ulama yang berakhlak sufi. Warisan ini terus bertahan di pesantren As’adiyah hingga kini, menjadikan lembaga ini sebagai salah satu pusat pendidikan Islam yang moderat di Indonesia Timur.
Relasi beliau dengan tarekat As-Sanusiyah tampaknya berperan besar dalam membentuk sikap reformis, namun tidak radikal. Sanusiyah di Mekah dikenal sebagai tarekat yang menggabungkan spiritualitas dengan gerakan intelektual dan bahkan politik. Pengaruh ini terlihat pada keberanian AGH. As’ad untuk melakukan purifikasi terhadap praktik keagamaan masyarakat Bugis, namun tetap mengedepankan hikmah dan kesantunan. Beliau tidak menolak tradisi, tetapi menimbangnya dengan syariah. Sikap ini merupakan manifestasi nyata dari Islam wasathiyah.
Metode mangaji tudang yang beliau kembangkan kemudian dipandang sebagai sarana efektif dalam memperkuat Islam moderat. Duduk bersama dalam lingkaran pengajian menciptakan suasana egaliter sekaligus penuh keintiman. Murid tidak hanya belajar teks, tetapi juga meneladani akhlak gurunya. Model ini sejatinya meniru pola majelis zikir tarekat, hanya saja dengan isi yang lebih menekankan pada kajian kitab dan nilai wasathiyah. Inilah salah satu bukti bahwa jejak tarekat tetap hadir, meski tidak selalu tampak secara formal.
Kebesaran AGH. Muhammad As’ad tidak semata karena keilmuannya, tetapi juga karena keberhasilannya menanamkan nilai akhlak kepada murid-muridnya. Beliau menjadi teladan dalam ketekunan ibadah, kerendahan hati, dan kesabaran. Murid-murid As’adiyah yang kemudian tersebar di berbagai daerah membawa corak Islam yang moderat, jauh dari sikap ekstrem, tetapi juga tidak larut dalam sinkretisme. Dengan demikian, tasawuf dalam ajaran beliau berfungsi sebagai penyeimbang, sekaligus fondasi etis bagi pembangunan peradaban.
Salah satu warisan terpenting beliau adalah pembentukan jaringan ulama As’adiyah. Para alumni tidak hanya menjadi pengajar di pesantren, tetapi juga aktif dalam masyarakat, menduduki posisi penting di ormas Islam, bahkan di pemerintahan. Mereka membawa semangat Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis, dipadu dengan etika tasawuf yang membimbing umat menuju jalan tengah. Jaringan ini menjadikan As’adiyah bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga gerakan sosial-keagamaan.
Jika menilik kembali, dapat dikatakan bahwa tarekat bagi AGH. Muhammad As’ad adalah pengalaman spiritual personal yang melandasi sikap dakwah dan pendidikan. Beliau tidak memosisikan tarekat sebagai organisasi, melainkan sebagai dimensi batin yang meneguhkan komitmen terhadap syariah. Dari sini, kita bisa memahami mengapa tarekat tidak disebut secara formal dalam kiprah beliau, tetapi nilai-nilai tasawuf justru begitu kental dalam praktik keseharian dan metode pendidikan beliau.
Perjalanan hidup beliau yang berawal dari Mekah dan berakhir di Wajo adalah simbol dari pertemuan Islam universal dengan Islam lokal. Di Mekah, beliau bersentuhan dengan tradisi ilmu klasik dan tarekat; di Wajo, beliau memadukannya dengan budaya Bugis. Hasilnya adalah sebuah model pendidikan Islam yang berakar di lokalitas tetapi berwawasan global. Tarekat menjadi inspirasi, sementara syariah menjadi pondasi, dan keduanya dipadukan dalam kerangka Islam wasathiyah.
Warisan spiritual AGH. Muhammad As’ad juga menunjukkan bahwa tarekat tidak harus identik dengan simbolisme ritual yang rumit. Tarekat bisa hadir dalam bentuk etika hidup, kedisiplinan ibadah, dan keikhlasan dalam pengabdian. Dengan menekankan dimensi ini, beliau mengajarkan bahwa yang terpenting bukanlah nama tarekat, melainkan substansi tasawuf yang menuntun umat kepada Allah. Dari sinilah muncul gagasan bahwa dakwah beliau adalah upaya menuju “tarekat substantif”.
Dari segi metodologi, AGH. Muhammad As’ad menampilkan integrasi antara tradisi ulama Mekah dengan kebutuhan lokal. Beliau menggunakan teks klasik sebagai rujukan, namun menyajikannya dengan metode pengajaran yang sesuai dengan kultur Bugis. Strategi ini memperlihatkan kecakapan beliau dalam meramu tarekat dan syariah dengan kearifan lokal. Hal ini pula yang menjadikan pesantren As’adiyah diterima luas dan tetap eksis hingga kini.
Jejak tarekat dalam dakwah AGH. Muhammad As’ad tidak bisa diabaikan. Ia hadir dalam bentuk nilai-nilai moral, metode pendidikan, dan sikap moderat yang diwariskan kepada generasi setelahnya. Beliau adalah contoh nyata ulama yang mampu mengharmonikan tarekat, syariah, dan budaya. Melalui jejak itu, pesantren As’adiyah berdiri sebagai warisan abadi, sekaligus saksi dari bagaimana tarekat bisa menjadi ruh pendidikan Islam tanpa harus tampil sebagai organisasi formal.
Daftar Pustaka
As’adiyah Pusat. (2015). Mengenang Guru Besar Kiyai Haji Muhammad As’ad. asadiyahpusat.org
DDI.or.id. (2024). Anre Gurutta H. Muhammad As’ad al-Bugisy. ddi.or.id
Jurnal Falsafatuna. (2023). Values of Tasawwuf in the Teachings of AGH. Muhammad As’ad. jurnallppm.iaiasadiyah.ac.id
ResearchGate. (2024). Mangaji Tudang: AGH. As’ad Al-Bugisi’s Learning Method in Strengthening Wasathiyah Islam Based on Pesantren in Eastern Indonesia. researchgate.net
Wikipedia. (2024). Muhammad As’ad al-Bugisi. id.wikipedia.org
Potret Nusantara. (2024). Biografi K.H. Muhammad As’ad (1907–1952). potretnusantara.co.id





