Zakat Pertanian dan Peternakan Menurut Perspektif Yusuf Al-Qardhawi

Dr. Syamsul Rahman, S.TP., M.Si Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar

Dr. Syamsul Rahman, S.TP., M.Si

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar

Bacaan Lainnya

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka, dan Allah Maha mendengar  lagi Maha mengetahui”, (QS. At-Taubah 103).

       Zakat adalah ibadah maliyah ijtima’iyyah yang memiliki posisi sangat penting, strategis, dan menentukan, baik dilihat dari sisi ajaran Islam maupun dari sisi kesejahteraan umat. Sebagai suatu ibadah pokok, zakat termasuk salah satu rukun yang ketiga dari lima rukun Islam. Sehingga keberadaannya dianggab sebagai ma’luum min ad-diin bidh-dharuurah atau diketahui otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang.

       Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat mempunyai beberapa arti, yaitu al-barakatu (keberkahan), al-namaa (pertumbuhan dan perkembangan), ath-thaharatu (kesucian), dan ash-shalahu (kebebasan). Sedangkan secara istilah, meskipun para ulama mengemukakannya dengan redaksi yang agak berbeda antara satu dengan lainnya, akan tetapi pada prinsipnya sama, yaitu bahwa zakat itu adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah SWT mewajibkan kepada pemiliknya, untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu. Hubungan antara pengertian zakat menurut bahasa dan menurut istilah adalah sangat nyata dan erat sekali, yaitu bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya akan menjadi berkah, tumbuh, berkembang dan bertambah, suci serta baik.

Kategori  Zakat

       Zakat pertanian dan peternakan masuk dalam kategori zakat mal (harta) yang menurut bahasa harta adalah sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk dimiliki, dimanfaatkan, dan menyimpannya. Sedangkan secara syara harta adalah segala sesuatu yang dikuasai dan dapat digunakan secara lazim seperti hasil perniagaan, pertanian, peternakan, pertambangan, harta temuan, emas dan perak, serta hasil kerja (profesi). Masing-masing kategori harta yang perlu dizakati memiliki perhitungannya sendiri-sendiri. Dan sesuatu dapat disebut harta apabila memenuhi syarat-syarat yaitu; dapat dimiliki, disimpan, dihimpun,  dikuasai, dan dapat diambil manfaatnya seperti rumah, pertanian, peternakan, uang, emas, perak, dan lain-lain.

Zakat  Pertanian

       Zakat pertanian adalah kewajiban yang harus ditunaikan jika mencapai nisab tertentu dan dikeluarkan dengan kadar yang tertentu. Dibawah ini akan dijelaskan sumber pertanian yang wajib dikenakan zakat, nisab zakat pertanian dan cara perhitungan zakat. Pertama, sumber pertanian yang wajib dikenakan zakat. Yusuf Al-Qardhawi (1993) berpendapat bahwa semua yang dikeluarkan dari hasil bumi wajib untuk dikeluarkan zakatnya. Pendapat ini berdasarkan kelaziman nas-nas Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan ini juga sesuai dengan hikmah persyaratan zakat.

       Nas-nas yang terdapat dalam Al-Qur’an yang menyatakan kewajiban zakat pertanian bersifat umum dan tidak menentukan dan mengkhususkan jenis sumber pertanian yang wajib dikeluarkan zakatnya, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am 141). Begitu juga dalam hadits Rasulullah SAW: “Pada apa-apa yang diairi (disirami) dengan air hujan, mata air atau air sungai zakatnya sebanyak 10%, sedangkan yang diairi dengan pengairan dikenakan (zakat) sebanyak 5%.” (HR. Bukhari).

       Kedua, nisab zakat pertanian. Menurut Yusuf Al-Qardhawi (1991) bahwa nisab dalam zakat pertanian adalah 5 wasaq. Nisab dalam zakat pertanian adalah sebagai ukuran dalam menentukan batas kekayaan seseorang itu sehingga dia wajib mengeluarkan zakat. Adapun ukuran 5 wasaq bila dihitung dengan kilogram maka sama dengan 300 x 2,176 kg gandum = 652,8 atau lebih kurang 643 kg. Sedangkan besarnya zakat pertanian yang harus dikeluarkan antara 5% atau 10%. Ketiga, cara penghitungan zakat. Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan berkenaan dengan cara perhitungan zakat pertanian terkait dengan pembiayaan dalam bidang pertanian, seperti pembelian alat pertanian, pupuk, penyiraman, pembajakan tanah, pemanenan dan sebagainya. Beliau berpendapat bahwa semua pembiayaan hendaknya dikeluarkan terlebih dahulu sebelum dikeluarkan zakatnya, dan tidak dimasukkan dalam penetapan 10% atau 5%. Hal ini berdasarkan dua alasan; (1) bahwa beban dan biaya dalam pandangan agama merupakan faktor yang mempengaruhi besar zakat bisa berkurang karenanya, misalnya dalam hal pengairan yang memerlukan bantuan peralatan yang mengakibatkan besar zakatnya hanya 5% saja, dan (2) bahwa pertumbuhan itu pada dasarnya adalah pertambahan, tetapi pertambahan itu tidak bisa dianggap terjadi dalam kekayaan yang diperoleh tetapi bebannya juga sebesar yang diperolehnya itu.

Zakat  Peternakan

       Zakat peternakan adalah zakat yang harus dikeluarkan atas binatang ternak yang dimiliki. Para ulama sepakat dalam menentukan jenis binatang yang wajib dikeluarkan zakatnya yaitu, unta, kerbau, sapi, kambing, dan domba. Islam tidak mewajibkan zakat pada tiap kuantitas ternak tiap jenisnya, akan tetapi mewajibkannya bila telah memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu, sampai satu nisab, telah dimiliki satu tahun, ternak itu merupakan hewan yang digembalakan, ternak itu tidak dipekerjakan untuk kepentingan pemiliknya. Misalnya ternak  yang dipekerjakan untuk menggarap tanah pertanian, dijadikan alat untuk mengambil air guna menyirami tanaman, dan digunakan sebagai sarana transportasi di pedesaaan.

       Terkait dengan binatang yang wajib dikeluarkan zakatnya, penulis hanya akan membahas dua jenis ternak yang lazim digembalakan di Indonesia terutama di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yaitu sapi dan kambing. Pertama, zakat sapi. Sapi adalah jenis ternak yang dianugerahkan Allah SWT yang banyak sekali manfaatnya buat kebutuhan manusia, antara lain dapat diambil susunya, kulitnya dapat dibuat beduq dan dagingnya dapat dikonsumsi oleh manusia.

       Adapun nisab sapi adalah 30 ekor dan zakatnya satu ekor sapi yang berumur satu tahun, 40 ekor sapi zakatnya 1 ekor sapi betina umur 2 tahun, 60 ekor zakatnya 2 ekor anak sapi jantan, 70 ekor zakatnya 1 ekor anak sapi betina umur 2 tahun dan anak sapi jantan umur 1 tahun, 90 ekor zakatnya 3 ekor anak sapi jantan umur 1 tahun, 100 ekor zakatnya 1 ekor anak sapi betina umur 1 tahun dan 2 ekor anak sapi jantan umur 1 tahun,  ….dst.

       Kedua, zakat kambing. Awal dari nisab zakat kambing adalah 40 ekor, maka tidak ada kewajiban zakat hingga seseorang mempunyai kambing lebih dari 40 ekor dan telah sempurna tahunnya. Adapun ketentuan zakat kambing adalah sebagai berikut; dalam 40 – 120 ekor zakatnya 1 ekor kambing, 120 – 200 ekor zakatnya 2 ekor kambing, 201 – 339 ekor zakatnya 3 ekor, dan 400 – 499 ekor zakatnya 4 ekor kambing.

       Akhirnya, sebegitu pentingnya zakat khususnya zakat pertanian dan peternakan, sehingga hampir di setiap ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kewajiban mendrikan shalat, dan selalu diikuti dengan kewajiban membayar zakat. Diantaranya adalah, “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah: 43).

Tinggalkan Balasan