Waketum PBNU: Semangat Hardiknas Bangun Karakter Bangsa

Jakarta, nusaline.com

Wakil Ketua Umum PBNU, H M Maksum Mahfoedz menegaskan, dalam setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), warga Indonesia tidak terkecuali para santri, harus merenungkan alasan dicetuskannya Hardiknas. Alasan bahwa sistem pendidikan Indonesia sebagai sarana untuk pembangunan karakter dalam perjuangan.

“Nafas itu yang ditegaskan (dalam setiap Hardiknas). Pendidikan untuk membangun karakter, bukan materialistis, nggakacademic building,” kata Prof Maksum, sapaan karibnya, Kamis (02/05/2019) pagi yang dirilis NU Online.

Ia prihatin dunia pendidikan sekarang dekat kecenderungannya pada academic building, ditandai dengan penyelenggara pendidikan yang tidak membekali misalnya moralitas.

“Toleransi, kecintaan, keimanan, ketawaduan, sopan santun, misalnya seperti lepas dari karakter bangsa dan masyarakat,” kata pria yang juga Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta ini.

Kecencenderungan dunia pendidikan hanya pada pengembangan karakter akademik, juga telihat misalnya dengan biaya pendidikan yang mahal. Orang merasa sudah mendapatkan pendidikan yang baik dengan membayar mahal. Di satu sisi penyelenggara pendidikan juga seperti merasa sudah memberikan pendidikan yang baik dengan mahalnya biaya pendidikan di tempat mereka.

Orientasi hanya pada karakter akademik juga ditandai dengan memintarkan orang dengan ‘pekerjaan otak’, sementara kapasitas hatinya tidak ada. Ia tidak sepakat jika disebut pendidikan yang baik hanya yang bidang Matematika atau Sains.

“Itu keliru. Karena semua bidang pendidikan itu baik,” tegasnya.
Pembangunan karakter, dengan demikian dapat menyeimbangkan antara kemampuan akademik, dengan hati, antara otak dan hati atau rasa. “Jurusan Fisika bagaimana jadinya kalau tidak punya hati?” tanyanya.

Kecencenderungan dunia pendidikan hanya pada pengembangan karakter akademik, juga telihat misalnya dengan biaya pendidikan yang mahal. Orang merasa sudah mendapatkan pendidikan yang baik dengan membayar mahal. Di satu sisi penyelenggara pendidikan juga seperti merasa sudah memberikan pendidikan yang baik dengan mahalnya biaya pendidikan di tempat mereka.

Orientasi hanya pada karakter akademik juga ditandai dengan memintarkan orang dengan ‘pekerjaan otak’, sementara kapasitas hatinya tidak ada. Ia tidak sepakat jika disebut pendidikan yang baik hanya yang bidang Matematika atau Sains.

“Itu keliru. Karena semua bidang pendidikan itu baik,” tegasnya.
Pembangunan karakter, dengan demikian dapat menyeimbangkan antara kemampuan akademik, dengan hati, antara otak dan hati atau rasa. “Jurusan Fisika bagaimana jadinya kalau tidak punya hati?” tanyanya.

Bisa jadi jika tidak menggunakan hati, seorang dokter tidak akan peduli pasiennya, seorang insinyur bisa ngawur.

Karena itu, ia sangat sepakat dengan ide pembangunan karakter. Pasalnya, saat orang berkonsentarsi mencanangkan SDM, itu dimulai pembangunan karakter sebagai landasan atau basis untuk mengembangkan lingkungan pendidikan. (usm/NU Online)

Tinggalkan Balasan