Peringati IWD, Lembaga Mahasiswa FAI UMI Gelar Diskusi

Diskusi Pra IWD yang Dilaksanakan Lembaga Dalam Lingkup FAI UMI

Makassar, Nusaline.com – Menyikapi momentum peringatan Internasional Women’s Day (IWD), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, menyelenggarakan diskusi pra IWD, di Lantai 5, FAI UMI, Jalan Urip Sumohardjo, Makassar, Kamis (05/03/2020).

Ketua 1 (satu) BEM FAI UMI Makassar, Sri Wahyuni, menjelaskan, kegiatan yang merupakan hasil kerjasama antara lembaga internal atau Himpunan Mahasiswa dalam lingkup FAI dan PMII FAI UMI, bertujuan untuk memperingati momentum IWD 2020 yang jatuh setiap tahunnya pada tanggal 8 Maret.

“Juga memberikan edukasi kepada mahasiswa tetang situasi perempuan dan sebagai ajang mobilisasi massa untuk terlibat aksi kampanye di tanggal 9 Maret,” kata Wahyuni, usai kegiatan diskusi tadi.

Kegiatan diskusi yang membahas persoalan perempuan tersebut, menghadirkan tiga pemantik yang berasal dari latar belakang organisasi yang berbeda, yakni Mutmainnah syam dari Fatayat NU, Nurisa Dessy dari Mahasiswa FAI UMI, dan Anggi Ria Awalia dari Solidaritas perempuan anging mammiri (SPAM).

Seperti salah satu pemantik dari SPAM, Anggi Ria Awalia, dalam materinya dia memaparkan terkait situasi perempuan dan dampak kebijakan negara terhadap perempuan dan adat istiadat.

Menurut Anggi, situasi perempuan khusunya yang ada dibagian pesisir setelah adanya reklamasi, mereka kehilangan pekerjaan, selain itu statusnya sebagai nelayan pun sampai sekarang tidak akui oleh pemerintah.

“Perempuan juga mengakses laut dengan mencari kepiting, tude, tiram dan kanjappang tetapi statusnya tidak diakui oleh negara. Sehingga ini berdampak pada penghasilannya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ucap Anggi.

Sementara itu, pemantik dari Mahasiswa FAI UMI, Nurisa Dessy mengucapkan, ada beberapa bentuk kekerasan seksual yang marak terjadi di lembaga institut atau lembaga-lembaga pendidikan khususnya dibeberapa Kampus yang seakan ditutupi.

“Ini kemudian penting disoroti oleh kaum intelektual atau para aktivis karna belum adanya payung hukum yang membahas secara spesifik soal perempuan sehingga pelecehan itu kemudian marak terjadi,” ujar Dessy.

Selain itu, diakhir diskusi ketiga pemateri tersebut mengusulkan agar mahasiswa ikut andil dalam menyerukan disahkannya RUU pks yang sampai saat ini belum juga disahkan. Karena beberapa kasus yang seharusnya posisi perempuan sebagai korban itu kemudian bisa dibolak balikkan menjadi pelaku dari pada kekerasn itu sendiri.

Sekedar informasi, diskusi tadi terlihat ditutup dengan membuat vidio kampanye terkait dukungan terhadap pemogokan buruh PT Alphen Food Industry, Sahkan RUU PKS, dan menolakn RUU Ketahanan Keluarga.(*)

Penulis: Nuhafida (Citizen Journalism)

Tinggalkan Balasan