PDNU SulSel, PWNU SulSel dan FIK UIM Buat Posko Siaga Covid-19

Makassar, nusaline.com – Data kasus Covid-19 atau Coronavirus baru di Sulawesi Selatan, Senin (20/04/20) menunjukkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 3272 orang, Pasien dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 560 dan pasien positif berjumlah 369 orang.

Olehnya itu, sebagai upaya memutus rantai penyebaran pandemi Covid-19 di SulSel, Persatuan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) SulSel bekerjasama dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) SulSel dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Islam Makassar (UIM) membentuk Posko Siaga Covid-19 di Gedung PWNU Sul-Sel, Jl. Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar.

Bacaan Lainnya

Penanggung jawab kegiatan, Prof. Dr.H.Muh.Syafar, Ms mengatakan bahwa Posko Covid-19 ini merupakan suatu inisiatif dari PDNU SulSel, untuk memberikan pemeriksaan kesehatan sebagai bentuk pencegahan penyebaran Covid-19.

“Keberadaan Posko Covid-19 ini sebenarnya untuk melakukan pencegahan penyebaran virus Covid-19 pada warga Nahdliyin dan termasuk masyarakat yang lain,” kata Prof. Syafar, usai ditemui di Posko Siaga Covid-19, Senin (20/04/20).

Prof Syafar mengungkapkan bahwa kegiatan yang dilakukan tersebut, telah mengikuti Standar Operasional atau protokol pencegahan atau penanganan Covid-19 sebagaimana yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

“Kita lihat disini sebelum masuk harus mencuci tangan mengunakan sabun terlebih dahulu, kemudian memakai hand sanitizer selanjutnya kita melalui prosedur yang telah ada disini,” ungkapnya.

“Mudah-mudahan kegiatan ini, kegiatan yang memberikan berkah buat kita semua untuk kepentingan umat manusia,” tambahnya.

Ditempat yang sama, salah satu dokter yabg bertugas diposko itu, dr. Nahdia Zainuddin, menyatakan bahwa pemeriksaan Rapidh Test yang dilakukan diposko ini bukan 100 persen untuk menentukan diagnosis positif atau negatif terhadap orang yang diperiksa.

“Rapidh test sendiri itu belum pasti menentukan bahwa orang yang diperiksa itu positif atau negatif covid-19 tetapi setidaknya bisa membantu untuk mengetahui diagnosis awal,” ujar dr. Nahdia.

Ia menjelaskan, terkait untuk standar diagnosis sendiri, pastinya harus dilakukan melalui pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR).

“PCR sendiri itu lanjutan dari Rapidh test, tapi itu setelah dilakukan pemeriksaan darah rutin, foto thorax, baru nanti dilanjut PCR kalau hasil Rapidh nya positif,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan