Menolak Tergusur,Warga Bara-baraya: Sudahilah sandiwara Ini

Makassar, Nusaline.com

Aliansi Bara-Baraya bersatu kembali melakukan Aksi pengawalan sidang saksi terkait dengan sengketa tanah antara warga Bara-baraya dengan Nurdin Dg. Nombong di Pengadilan Negeri Makassar, Jalan R.A Kartini, Makassar, Selasa (11/02/2020).

Sidang kali ini merupakan tindak lanjut dari hasil sidang Peninjauan Setempat (PS) yang dilakukan oleh hakim dan masing-masing kuasa hukum di Bara-Baraya Jalan Abubakar Lambogo, pada Kamis 06 Februari 2020 lalu.

Dalam pengawalan sidang itu, massa aksi membentangkan spanduk tuntutan sembari bergiliran menyampaikan orasi, serta memberi dukungan kepada majelis hakim agar tetap pada koridor hukum yakni penegakan hukum yang adil bagi warga Bara-baraya.

Wakil Jendral lapangan (Wajenlap) aliansi, Cureng mengungkap, aliansi bersama warga bara-baraya meminta hakim untuk menegakkan keadilan dalam persidangan tersebut, sesuai dengan fakta-fakta yang dari hasil tinjauan dilapangan.

“Berdasarkan hasil Peninjauan Setempat (PS) bahwa pihak kuasa hukum penggugat tidak mampu menunjukkan objek-objek sengketa tanah,” kata, Cureng, melalui keterangan tertulisnya, di Makassar.

Ia menambahkan, pada peninjauan lalu, pihak penggugat hanya mampu menunjuk objek sengketa dari arah jauh, sehingga pihak warga menganggap ada kecurangan yang dilakukan oleh pihak kuasa hukum penggugat.

“Kuasa hukum penggugat tidak konsisten menunjuk batas-batas Objek sengketa, itupun dibatas akhir ia mendapatkan arahan dari orang, orang yang memberikan arahan itu di sinyalir adalah kerabat kuasa Hukum dari penggugat, itukan bisa di katakan asal-asalan dalam menunjuk batas-batas,” tuturnya.

“Jadi, inilah yang menurut kami bentuk kecurangan yang nyata, apalagi itu dilakukan di depan Majelis Hakim. Maka dari itu Majelis hakim harus menolak seluruh gugatan dari penggugat,” tambahnya.

Salah satu warga, Andarias mengunkapkan, tiga tahun lamanya warga Bara-baraya terus berjuan melawan para mafia dan aparat yang coba untuk merampas tanah yang ia dan warga lainnya tempati tinggal. Ia berani lantaran orang tua merak punya alas hak atas tanah ini.

“Sudahilah sandiwara Ini, Rumah kami bukan bagian dari bekas okupasi Militer dan juga bukan milik penggugat maka semua gugatan mereka itu bohong dan tidak masuk akal karna tidak pernah ada bukti bahwa kami bagian dari okupasi TNI,” ungkap Andaria.

“Pihak penggugat II Juga tidak pernah menampakkan dirinya. Ini adalah Hak asasi kami maka kami akan terus berjuang mempertahankan tanah kami dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak punya hati nurani,” lanjutnya. (Sdm).

Tinggalkan Balasan