Mengenang Sosok Prof. Arifuddin Ismail

nusaline.com

Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, tidak ada yang bernyawayang hidup selamanya. Ketika Allah menentukan ajal , semua yang bernyawa , apakah makhluk manusia , binatang dan lain sebagainya akan merasakan kematian.

Kamis, 23 Januari 2020, sekitar pukul 22.30 Wita, di Rumah Sakit Bunda, Balikpapan, Peneliti Senior Balai Litbang Agama Makassar, Prof. Dr. H. Arifuddin Ismail, M.Pd menghadap ke haribaan Allah, kala menjalankan tugas mendampingi peneliti Litbang Agama Makassar di Balikpapan.

Semasa hidupnya Prof Arifuddin Ismail dikenal memiliki watak kepemimpinan. Apalagi jika sudah menyatakan pendapatnya. Beliau tegas, tetapi sangat peduli. Kepada anak-anak muda, beliau selalu meletakkan harapan dan kepercayaan.

Baik di lingkungan peneliti maupun di kalangan NU. Beliau akan mengkritisi tanpa tedeng aling-aling jika merasa ada yang tidak beres dengan apa yang dilakukannya. Sebaliknya, beliau juga tidak pernah mempersoalkan jika dikritik oleh juniornya. Baginya, perdebatan dalam lingkungan ilmiah penting dan harus. 

Berkat sifat kepimimpinan dan ketegasannya itulah Prof Arif pernah menjabat sebagai Kepala Balai Litbang Agama Semarang (2009-2014), beliau juga merupakan peneliti Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI.

Prof Arifuddin, lahir di Kabupaten Majene , Sulawesi Barat, 31 Desember 1957.

Prof Arif meninggalkan istri, Sri Samiaji Mujiarti, dan empat anak, Yaitu Mardiah Endah Sari, Fauzan Ariwibowo, Shafwan Dimas Nugroho, dan Wulan Adiningrum.

Selamat jalan Prof, Al fatihah untukmu.

Tinggalkan Balasan