Media Digital Pendidikan (Refleksi Hardiknas Tahun 2020 di Tengah Pandemi Covid-19)

Dr.  Hj. Mardyawati Yunus,S.Ag.,M.Ag. (Dosen Universitas Islam Makassar)

Wabah corona Covid-19 menyerang secara frontal terhadap eksistensi kehidupan manusia sejagat. Banyak rencana program yang suda tertata rapi mualai dari kegiatan yang sifatnya lokal, Nasional dan International ditunda pelaksanaannya dan tidak sedikit dibatalkan.

Bacaan Lainnya

Tatanan sosial budaya mengalami perubahan,  yang terkenal dengan keramah tamahannya, bersalaman bila bertemu, bahkan adanya budaya cipika cipiki  ketika berjumpa sekarang berubah. Senyum merupakan ibadah  sekarang  tertutupi dengan   masker,  silaturahim yang selama ini dimaknai kumpul-kumpul dilakukan dengan jaga jarak. Shalat jamaah di Mesjid  yang menjanjikan pahala sekalipun harus dilaksanakan di rumah.

Sejak Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada tanggal 2 April 2020 dan menghimbau agar masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah  demi menekan penyebaran virus Covid-19 di Indonesia. Presiden Jokowi  menyampaikan bahwa salah satu upaya untuk mencegah, memperlambat  dan menahan  penularan virus corona  adalah social distancing  dan  Physical distancing.  Bahkan tidak berhenti hanya sampai disitu,  rumitnya penanganan wabah ini dan semakin semakin mengkhawatirkan sehingga pemerintah  memutuskan untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar bagi wilayah  tertentu. Penerapan  PSPB  sebagai kebijakan super ketat pemerintah dalam upaya memutuskan mata rantai penyebaran virus corona  yang semakin meluas.

Sejak diberlakukannya social distancing  dan  Physical distancing  ini tentu  berimplikasi terhadap  pola hidup atau perubahan  sosial masyarakat mencakup ekonomi, sosial, budaya, politik, kesehatan  termasuk dunia pendidikan. Berimbasnya virus corona  pada bidang pendidikan adalah beralihnya aktivitas  ke rumah serta tertundanya  semua agenda kegiatan yang sudah direncanakan dalam beberapa waktu yang tidak ditentukan baik di sekolah maupun perguruan tinggi  guna mengikuti himbauan pemerintah  untuk menghindari  kerumunan dan meminimalisir pertemuan dalam jarak dekat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( mendikbud) Mas Nadiem Kariem mendukung kebijakan pemerintah tersebut  dengan meliburkan lembaga pendidikan (sekolah dan kampus) mengalihkan proses pembelajaran di rumah. Segalanya aktivitas sekolah dilakukan di rumah, Pendidik (guru, dosen)  mengajar di rumah dan Peserta didik ( murid dan mahasiswa) belajar di rumah.

Setelah  diberlakukannya belajar di rumah maka yang dirasakan oleh para  siswa sekolahan adalah mengeluh akan belajar dirumah  karena dipenuhi dengan tugas  rumah yang diberikan oleh  masing-masing  guru bidang study.   Sebagian  dari  siswa  harus belajar otodidak (sendiri), karena orang tua yang tidak mampu menjelaskan atau mengajari materi yang ada di buku sehingga membimbing anaknya sesuai kemampuan mereka.

Bahkan  tidak sedikit orang tua merasa kelelahan ketika anaknya harus belajar dan anak anak lebih memilih main game khususnya dengan menggunakan “daget” atau  Hand Phone, bermain bersama teman. Sehingga dengan nada kesel sering dilontarkan oleh orang tua kepada anaknya yang semestinya anak tidak diperlakukan demikian.

Kendala yang paling menyedihkan ketika  tugas yang dibuat itu harus menggunakan teknologi   dengan aplikasi  tertentu  seperti halnya yang digunakan banyak orang yakni aplikasi classroom, zoom atau sejenisnya.  Lagi  lagi orang tua belum memahami penggunaan aplikasi tersebut dan hal yang menghambat ketika  kuota yang dimiliki sangat terbatas. 

Demikian halnya  keluhan yang di rasakan oleh mahasiswa  terkait dengan  belajar di rumah.   Selain soal  kuota internet terbatas  dalam pelaksanaan kuliah daring   banyak terkendala oleh sinyal dan atau  jaringan web, teknologi yang kurang mendukung. Seperti kasus mahasiswa Universitas Islam Makassar tidak sedikit  yang tinggal didaerah yang susah di jangkau, bukan hanya sinyal yang rendah tapi untuk mengakses ke tempat mereka hanya bisa dijangkau dengan kendaraan 2 misalnya. Sehingga kalau akan mengikuti kuliah daring maka harus  mencari tempat  tertentu yang sinyalnya kuat dan  dapat menangkap serta mengikuti proses perkuliahan.

Virus corona juga terimbas pada pelaksanaan UN 2020. Pemerintah telah memutuskan  untuk meniadakan   Ujian Nasional (UN)  mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga  Sekolah menengah Atas ( SMA). Langkah tersebut diambil tentunya sebagai bentuk respons pandemi COVID 19 dengan memprioritaskan keselamatan dan kesehatan Rakyat.  

Dampak yang dirasakan oleh pendidik (guru dan dosen) adalah dengan pemindahan  model pembelajaran di kelas  ke dunia virtual   adalah mengharuskan  adanya digitalisasi pendidikan dengan menggunakan teknologi tanpa harus bertemu.

Mengingat peralihan cara belajar ini datangnya tiba-tiba,  akhirnya memaksa  seluruh pihak untuk memanfaatkan apa yang ada sebagai  media pembelajaran  agar proses pembelajaran tetap terlaksana.  Meskipun demikian dalam pelaksanaannya  tentu mengalami hambatan dan permasalahan proses belajar mengajar. Selain permasalahan jaringan yang kurang mendukung dan kuota yang sangat terbatas keterampilan guru dalam memanfaatkan media digital masih sangat kurang. 

Kehadiran  Corona  sebagai virus  menjadi momentum bagi para pendidik untuk mempelajari  dunia baru yang biasa dikatakan era baru. Meskipun istilah era baru sendiri sudah ada jauh sebelum  Covid-19 menyerang dan memaksa untuk beralih. Adanya wabah corona ini tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu pendorong bagi pendidik  untuk menerapkan sistem baru untuk melaksanakan tugas pembelajaran. Belajar jarak jauh harus dilaksanakan sebagaimana  tertuang dalam  Undang Undang  RI  Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional   pasal 1 bahwa pendidikan jarak jauh merupakan pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain. Lebih tegas  pada Pasal  31 ayat 2 bahwa  pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan  kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Ayat 3 menjelaskan bahwa pendidikan jarak jauh diselenggarakan   selenggarakan dalam berbagai bentuk, modus  dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar  yang sesuai dengan Standard Nasional Pendidikan

Secara tegas pula   pada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22 tahun 2016 bab 1 bahwa pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi  bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.

Dengan demikian tanpa alasan sebagai pendidik sudah seharusnya memiliki keterampilan dalam penggunaan teknologi pembelajaran.  Dituntut untuk menyesuaikan  diri dan memanfaatkan digital baik pendidik maupun peserta didik dengan harapan  perubahan ini tidak berakhir  seiring berakhirnya  covid-19.

Jadikan kehadiran corona ini sebagai pelajaran berharga guna melakukan perubahan menuju kemajuan pendidikan. Selamat bagi para pendidik.

Tinggalkan Balasan