Makna Filosofis Telur Pada Peringatan Maulid

Maulid Nabi Muhammad Saw adalah sebuah peringatan untuk mengenang lahirnya Nabi Muhammad Saw. Dalam peringatan Maulid terdapat zikir, shalawat dan puji-pujian terhadap Rasulullah Saw sebagai wujud kecintaan Umat Islam kepada beliau. Peringatan Maulid biasanya identik dengan telur bahkan oleh sebagian besar masyarakat menganggap Peringatan Maulid hambar tanpa kehadiran telur.

Sesungguhnya Telur pada perayaan Maulid yang biasanya dicantel pancangkan pada batang pisang (tiri’) memiliki makna Filosofis yang sangat dalam. Diantaranya sebagian orang memaknai telur Maulid yakni, kulit, putih telur dan kuning telur. Kulit artinya iman, putih telur artinya Islam, dan kuning telur artinya ikhsan. Sedangkan tusuk bambu melambangkan adanya kelurusan, kekuatan, keteguhan layaknya Pohon bambu yang tumbuh menjulang tinggi mencontoh sikap Rasulullah Saw yang mulia.

Ada juga yang menganggap Telur Maulid bermakna tiga kualitas hidup pada diri seorang manusia, yakni, pertama kulit telur bermakna panca indera manusia, warna-warni pada telur melambangkan kamuflase kehidupan pada diri manusia. Kedua, putih telur adalah jiwa manusia dan ketiga, kuning telur melambangkan hati manusia yang dalam Al-Qur’an disebut qalbu.

Sementara itu Budayawan Makassar, Sirajuddin Daeng Bantang mengatakan bahwa Telur Maulid melambang tiga lapis tingkatan pada diri manusia, yakni fisik, jiwa dan ruh. Bambu yang menancap adalah simbol hubungan vertikal seorang hamba (manusia) dengan tuhannya “hablunminallah” yang harus dilalui pada jalan “sirathalmustaqim”. Keadaan lurus pada bambu menggambarkan pada seluruh sikap-sikap luhur yang harus ada pada diri manusia seperti kejujuran, amanah, tulus, ikhlas yang harus mewarnai tiga lapis ke dalam diri manusia sehingga mampu menyeimbangkan diri manusia dari hablunminannas ke hablunminallah. Wallahu a’lam. (Abdul Hakim Madda) Sumber :
http://www.sulbar.com

Tinggalkan Balasan