Desas-Desus Munarjati dan 60 Tahun PMII

Ahamd Zulfikar (Pengurus Komisariat Universitas Islam Makassar PMII Cabang Metor Makassar)

Ahamd Zulfikar (Pengurus Komisariat Universitas Islam Makassar PMII Cabang Metor Makassar)

Sejak tahun 1960, inisiatif menyatukan mahasiswa Nahdlatul Ulama berhasil digaungkan, setelah terbentuknya IMANU dan IPNU juga IPPNU. Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia menjadi wadah baru bagi kader muda Nahdlatul Ulama dikalangan mahasiswa, tepat 17 April 1960 usaha pendirian organisasi kemahasiswaan rampung. Dalam pembentukannya, tercatat 13 tokoh deklarator, dan kesemuanya menjadi tonggak sejarah penyaluran aspirasi kaum muda Nahdlatul Ulama. Kejayaannya pun menggema di langit yang biru, menjalar bersentuhan dengan fenomena akar rumput.

Bacaan Lainnya

Selama 60 tahun berhidmat untuk negeri, bukan waktu yang singkat untuk mengarungi samudra Indonesia yang multidimensi, berhidmat dalam kurun enam dekade ini bukan hal yang mudah, betapa banyak organisasi yang di dirikan namun hanya sedikit yang mampu bertahan hingga setengah abad. PMII menjadi satu di antara OKP lainnya yang masih tetap eksis berkibar. Usia sedewasa itu bukan perjuangan yang mulus dalam mempertahankan cita-cita luhur kehadirannya, apalagi dalam situasi nasional di tengah kawah kepentingan dan pergulatan sosial yang beragam setiap saat dalam pergulatan sejarah yang panjang.

Nahdlatul ulama menjadi induk dari organisasi PMII, lahir dan dilahirkan dari rahim NU yang secara struktur menjadi badan otonom Nahdlatul Ulama. Menjadi representasi dari persiapan kader muda Nahdlatul ulama, hal ini bisa di lihat melalui pengurus NU sebagian besar mereka kader PMII yang walaupun sebahagiannya ada yang dari IPNU. Secara kultural PMII sepenuhnya menjalankan, merawat, menguatkan kultur Nahdlatul Ulama. Representasi nilai ke-NUan ini termaktub dalam rumusan nilai dasar pergerakan atau lazim di sebut NDP.

Harlah yang ke 60 tahun ini tepatnya Jumat 17 April 2020, menjadi refleksi dari khidmat yang teramat panjang. Sudah setengah abad mendarma-baktikan pengabdian untuk satu tanah air Indonesia, mengabdikan diri untuk merawat tradisi dan satu keyakinan islam rahmatan lil alamin ala ahlusunnah waljamaah an-nahdliyah. Tentu peran dan kontribusi yang dinamis juga sangat diperhitungkan.

Deklarasi munarjati 1972 menjadi tonggak awal independensi PMII secara struktural dari NU, tentu saja keputusan independen ini tidak hadir begitu saja melainkan karena kondisi dan situasi politik praktis PNU yang berlangsung saat itu. Satu sisi, PMII secara kultur tetap sama dengan NU. Independen ini menjadi satu angin segar bagi pergerakan mahasiswa Islam Indonesia untuk mengembangkan diri secara mandiri. Dalam refleksi sejarah ini, para kader PMII tentu sudah dapat mendeteksi segala hal yang perlu diperbaiki dan konsisten dalam perjuangan mewujudkan masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berkeadilan dan untuk kemakmuran seluruh elemen bangsa dan tanah air.

Sejauh ini, pasca deklarasi Munarjati terlebih setelah NU kembali ke khitah awal berdirinya. Wacana PMII akan di kembalikan ke banom NU cukup sering di bicarakan, namun beberapa kali kongres PMII sampai saat ini wacana kembali ke banom NU belum menunaikan perkembangan.

Independensi PMII sebagai organisasi jauh lebih baik dalam hal pengelolaan organisasi, tentu dalam sikap dan kebijakan yang dihasilkan. kultur NU akan tetap menjadi alas pijak dan pondasi menjadi manhaj berpikir dan berkiprah guna menjaga agama, merawat tradisi, menjadi lokomotif evolusioner dan revolusioner perubahan sosial, serta meneruskan perjuangan panjang kemerdekaan bangsa dan negara.

Agar tetap dapat menjaga idealisme gerakan kerakyatan, independensi ini perlu dipertahankan. Mempertahankan independensi dimaksudkan agar secara lembaga, PMII tidak terkontaminasi secara langsung dengan politik praktis dan kepentingan pragmatisme elit lainnya. Marwah organisasi dan kaderisasi menjadi pilar utama dalam mengembangkan organisasi dan pose keberpihakan terhadap kaum mustadafin menjadi pilar terdepan dalam spirit gerakan kerakyatan. Idealisme adalah marwahnya, disaat bersamaan independensi merupakan cara terbaik untuk menjaga konsistensi dalam membela dan memperjuangkan kaum mustad’afin.

Tinggalkan Balasan