Annangguru Edda, Ulama Perempuan Mandar yang Sangat Bersahaja.

Annangguru Edda

nusaline.com

Jika ada contoh konkret kandungan kitab Ta’limul Muta’allim, baik praktek maupun hasil, pantas disematkan kepada Annangguru Edda, ulama perempuan Mandar yang sangat bersahaja.

Tiap hari, beliau mengkhidmatkan dirinya mengajar pangngaji-pangngaji yang datang dari berbagai penjuru daerah. Panngaji yang biasanya adalah santri-santri dari pondok pesantren yang ingin lebih memperdalam ilmu agamanya. Ada pula, mahasiswa-mahasiswi yang merasa haus ilmu dan tidak mendapatkan oase yang mereka cari di perkuliahan, maka cutilah mereka lalu berangkat ke Campalagian, Bonde. Atau alumni pondok yang akan lanjut ke timur tengah dan sementara menunggu pemberangkatan.

Di rumah Annangguru, semua panngaji berkumpul. Datang silih berganti, berkelompok-kelompok. Laki-laki dan perempuan. Di rumah panggung, rumah masyarakat tanpa nama pondok pesantren.

Setiap sampai giliran kelompok kami untuk belajar, Annangguru selalu memulainya dengan ungkapan teduh.

“Bukan itu kalian yang belajar, tapi saya yang belajar sama kalian. Saya tidak ada ilmuku, tidak ada sekolahku.”

Belum lagi kami membuka kitab, bab tentang ke-tawadhuan sudah meresap ke jiwa kami.

Metode yang beliau pakai adalah mushafahah, bukan sistem halaqah. Jadi Annangguru akan menghadapi kami satu-satu, tiap orang beda kitab yang didaras. Santri yang bersangkutan membaca teks arab kitabnya, lalu beliau meluruskan bacaan dan menerjemahkannya – sesekali beliau menjelaskannya dengan sangat irit.

Yang menarik, terjemahan beliau dalam bahasa Bugis tapi ketika menjelaskan dalam bahasa Kone-Kone. Karena beliau sejatinya tidak terlalu paham bahasa Bugis. 
Semua kitab kuning dapat beliau terjemahkan dan pahami, bahkan kitab putih (modern) yang biasa dikirimkan santrinya dari Mesir.

Suatu ketika datang kiriman kitab sekardus rokok, salah seorang santri bertanya pada beliau.

“Nangguru, kita bisa baca ini kitab?”

Tanya santri itu sambil menunjuk kitab putih yang bahasanya sudah bercampur dengan bahasa jurnalistik modern. Jawab beliau, “Bisa!”, sambil mempraktekkan pembacaannya.

Dan yang mencengangkan, beliau bisa baca dan mengajarkan kitab gundul tanpa pernah belajar kitab secara intensif. Beliau pernah bercerita.

“Ketika kecil saya datang ke Bonde untuk belajar pada Annangguru Zein kecerdasan saya di bawah standar. Jadi Annangguru menyuruh saya tinggal di rumahnya untuk mengabdi pada beliau; memasak, menyapu, mencuci dan lain-lain. Tiap Annangguru ke dapur, beliau selalu mengelus-elus kepalaku sambil berkata, ‘Nanti Allah yang ajar kamu, Nak’.”

Dan setelah Annangguru Zein wafat, ilmu beliau berpindah kepada Annangguru Edda. Makanya rumah peninggalan Annangguru Zein diizinkan oleh ahli warisnya agar tetap ditempati Annangguru Edda untuk meneruskan panngajian di situ.

Jadi kalau selama ini, kita, alumni pesantren yang percaya barakka (berkah) biasanya hanya mendapatkan barakka yang masih samar-samar, maka Annangguru Edda adalah contoh nyata dan jelas adanya barakka berkhidmat pada guru.

Usai mengaji, beliau dengan lembut akan menyuruh kami menunggu sebentar. Beliau masuk ke dapur dan beberapa saat keluar dengan nampan berisi gelas-gelas teh dan biskuit. Beliau akan marah jika santri menolak.

Barakka’ ta semua ana’ pangngaji, Nak, kuperlukan.”

Beliau selalu begitu. Bayangkan kalau 20 sampai 40 santri yang datang ke rumah beliau setiap harinya. Semuanya dijamu, padahal beliau mengajar sama sekali tidak memungut biaya, bahkan tidak mau. Beliau tidak sembarangan menerima pemberian tapi semua santri dijamu sebaik-baiknya. Barangkali, barulah beliau tidak menjamu kalau di rumahnya benar-benar tidak ada lagi yang bisa dihidangkan.

Mungkin banyak yang mengira bahwa beliau bisa berbuat seperti itu karena beliau adalah orang kaya, punya banyak aset kebun kelapa. Tidak. Beliau bukan orang kaya, pekerjaannya adalah mengajar dan menjual kitab. Kitab yang beliau jual murah sekali. Keuntungannya tidak seberapa dan harganya jauh lebih murah dari toko kitab di Mangkoso pada waktu itu. Apalagi, santri tidak tiap hari beli kitab. Hanya saat ada santri baru datang, bakal ada lagi kitab yang laku.

Tapi itulah keikhlasan beliau yang beliau ajarkan. Yang tidak bisa dipelajari di buku-buku. Belajar ikhlas harus mendapat percikan langsung dari bergaul dengan orang-orang ikhlas.

Kisah-kisahmu melekat di hati kami. Kami ceritakan kepada santri dan anak-anak kami. Selamat jalan Annangguru. Dunia tempat berjuang dan bersusah-susah. Sedang akhirat adalah peristirahatan yang melegakan. Semoga kami bisa mengikuti jejakmu selalu.

 (أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ)

Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.

Amiril MuemininPengasuh Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar

Tinggalkan Balasan