Kam. Nov 21st, 2019

NusaLine

Garis Info Nusantara

Cerita di balik Pertemuan Jokowi dan Gus Dur Tahun 2006

2 min read

Nusalaine.com – Pertemuan KH Abdurrahman Wahid dan Joko Widodo yang terdokumentasikan lewat sejumlah foto mendadak viral di media sosial. Foto-foto tersebut pertama kali diunggah oleh akun facebook bernama Blontank Poer. Dalam waktu dua jam saja, postingan foto bersejarah tersebut 2.000 kali dibagikan oleh netizen.
Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo itu mengaku bahwa awalnya dia tidak sengaja bersih-bersih CD koleksi foto lama. “Nemu adegan Pak Jokowi mencium tangan Gus Dur,” ungkap Blontank Poer.
Ia mengungkapkan, peristiwa di Kraton Surakarta itu, menurut catatan digital di kamera Canon EOS D30, 8 Januari 2006. Berarti, itu baru beberapa bulan Pak Jokowi menjabat Wali Kota Surakarta.


Dalam pertemuan tersebut, dua tokoh bangsa itu sama-sama mengenakan baju batik. Jokowi melengkapi baju batik abu-abu mengkilapnya dengan mengenakan peci hitam.
Kisah menarik di balik pertemuan tersebut tidak terelakan. Di antaranya, saat masih menjadi Wali Kota Solo, Jokowi disebut Gus Dur bakal menempati kepemimpinan tertinggi di negara ini, yaitu Presiden RI. Hal itu pertama kali diungkapkan oleh Hussein Syifa, ketua panitia Harlah ke-9 Gus Dur di Kota Solo pada Jumat (22/2/2019) lalu.
Pernyataan Gus Dur menurut Hussein terlontar pada 8 Januari 2006 silam. Kala itu, di Solo ada acara bertema Njejegake Sakaguru Nusantara (Menegakkan Kembali Sokoguru Nusantara) dengan mendatangkan Gus Dur. Saat kedatangannya ke Solo, Gus Dur disinggahkan oleh panitia ke Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo. 
“Saat itu bertemu dengan beberapa orang, termasuk di antaranya Pak Jokowi yang menjadi Wali Kota Solo,” kata Hussein Syifa di Solo, Jumat (22/2/2019) lalu seperti diwartakan Sindonews Biro Jateng dan DIY.
Beragam obrolan ringan, hangat, dan santai tercipta dalam pertemuan tersebut. Ketika Gus Dur tengah bercerita tentang kisah wayang Dewaruci, datang KH Moeslim Rifai Imampuro (Mbah Liem) yang kini telah wafat. Sesaat setelah kedatangannya, pendiri Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti itu meminta Gus Dur menjadi presiden lagi.
Menanggapi permintaan itu, Gus Dur menjawab dalam Bahasa Jawa, intinya adalah terpenting tiang Nusantara harus berdiri kokoh dulu. Gus Dur lalu menyebut bahwa Jokowi nanti juga bisa jadi presiden karena kriteria syaratnya telah terpenuhi.
Kala itu, Jokowi yang berada di sisi kiri Gus Dur hanya tersenyum. Tidak ada reaksi berlebihan dari Jokowi selain terlihat tenang dan menyungging senyum atas pernyataan Gus Dur tersebut.
Kini, apa yang dikatakan Gus Dur pada 2006 silam tersebut menjadi kenyataan. Joko Widodo menjadi Presiden ke-7 RI saat memenangkan Pilpres 2014 lalu ketika ia berpasangan dengan Muhammad Jusuf Kalla. Bahkan merujuk pada Real Count KPU dalam sistem penghitungan suara (situng) di website www.pemilu2019.kpu.go.id, Jokowi yang kini menggandung KH Ma’ruf Amin sebagai Wapres kembali unggul dalam perhelatan Pilpres 2019. (Drj/Fathoni/NU Online)

Tinggalkan Balasan