Ming. Okt 20th, 2019

NusaLine

Garis Info Nusantara

Tiga Hizib Para Kiai saat Berperang Melawan Tentara Sekutu

3 min read

nusaline.com

Perjuangan santri dalam bentuk kultural terhadap penjajah Belansda berlangsung hingga datangnya Jepang (Nippon) ke Indonesia pada Maret 1942. Setelah Nippon menduduki wilayah Indonesia terjalin sejumlah kesepakatan yang membuka peluang kepada santri untuk melakukan latihian militer bersama Jepang.

Pada awalnya, Nippon ingin membentuk pertahanan tambahan untuk melawan tentara sekutu. KH Hasyim Asy’ari menyetujui santri dilatih militer oleh Jepang. Tetapi mereka tidak akan ke mana-mana, tetap menjaga Indonesia dan membentuk barisan tersendiri yang dinamakan Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Ini merupakan langkah Kiai Hasyim Asy’ari dalam menyiapkan tentara santri untuk menghadapi kemungkinan datangnya tentara sekutu ke Indonesia.

Prediksi Kiai Hasyim Asy’ari benar. Setelah mengalahkan Jepang, tentara sekutu yang di dalamnya ada tentara NICA Belanda ingin kembali menduduki Indonesia. Belanda membonceng sekutu sehingga ini merupakan Agresi Belanda kedua setelah sebelumnya juga menduduki Indonesia. Namun, kali ini persiapan tentara santri telah matang secara militer. Sebelumnya, Kiai Hasyim Asy’ari menyampaikan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk menggerakkan seluruh bangsa Indonesia, terutama umat Islam untuk memukul mundur tentara sekutu.

Bagi para santri dan kiai, perjuangan fisik saja tidak cukup. Mereka berperang sembari melantunkan doa dan hizib. Menurut catatan KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013), kiai-kiai dari Jombang, Gresik, Pasuruan dan dari sekitar Surabaya menyerang musuh sambil meneriakkan doa-doa dalam Hizbul Bahr, Hizbun Nashr, dan Hizbus Saif. Pertama kali dalam sejarah perang di Indonesia melawan penjajah, kalimat takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar bershut-sahutan dengan letusan bom dan rentetan suara mitraliur.

Atas kepentingan NICA, sebetulnya tentara sekutu (Inggris) terhasut untuk melawan rakyat Indonesia. Tentara sekutu terbuai karena sama-sama bangsa Barat dan bangsa penjajah. NICA mendalangi pertempuran, tentara sekutu berulangkali menyampaikan gencatan senjata saat terdesak tetapi dilanggar oleh tentara NICA. NICA terus menyebar provokasi mengadu rakyat Indonesia dengan tentara Inggris. Pertempuran sporadis terus terjadi di berbagai lokasi.

Dalam pertempuran tersebut, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, Komandan Brigade 49 Divisi 23 tentara sekutu (Inggris) ditemukan mati tertembak pada perang yang berpangsung 31 Oktober 1945. Peristiwa tersebut merusak perjanjian penghentian tembak-menembak yang telah disetujui oleh Pemimpin Indonesia dan kaum Sekutu dalam Contact Commitee.
Pimpinan tentara Sekutu di Surabaya menjawab kematian Brigjen Mallaby dengan ultimatum yang terkenal pada 9 November 1945. Ultimatum tersebut menyebutkan: “Semua rakyat Indonesia yang bersenjata harus menyerahkan senjata di tempat-tempat yang ditunjuk oleh tentara sekutu, sambil mengangkat tangan dan didampingi bendera putih tanda menyerah kepada sekutu. Segalanya harus sudah diselesaikan pada 06.00 tanggal 10 November 1945.” (KH Saifuddin Zuhri, 2013: 337)

Rakyat Surabaya menganggap ultimatum Sekutu pada 9 November 1945 sebagai penghinaan terhadap rakyat, terhadap Republik Indonesia dan Proklamasi 17 Agustus 1945. Kiai Saifuddin Zuhri mencatat bahwa tentara Sekutu mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Divisi 23 dan Divisi 5 yang berkekuatan sekitar 10.000 hingga 15.000 serdadu dibantu oleh meriam-meriam kapal perang penjelajah Sussex, beberapa kapal perusak dan pesawat-pesawat terbang Mosquito dan Thunderbolt dari RAF.

Rakyat Indonesia tidak gentar. Bagai air bah yang tidak dapat dibendung, rakyat Surabaya maju menyerbu semua kubu tentara Sekutu di seluruh kota. Tua dan muda serentak menerjang musuh meski hanya bersenjatakan bedil, pistol, pedang, dan bambu runcing. Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari memberikan kekuatan lahir dan batin bagi rakyat Indonesia untuk mengusir NICA dan tentara Sekutu. (Drj/Fathoni/NU Online)

Tinggalkan Balasan