Ming. Okt 20th, 2019

NusaLine

Garis Info Nusantara

PENJELASAN DPP IMMIM (Tentang Spanduk Politik Praktis di Masjid)

2 min read

Foto saat Pengukuhan Dewan Pengurus Pusat IMMIM

Ahmad M. Sewang

Saya sependapat bahwa Islam berbeda dengan agama lainnya. Islam adalah agama yang mengurus semua bidang kehidupan, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Islam meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah politik. Islam dan politik bagai dua sisi dari satu mata uang, seperti dikemukakan HAR Gibb dalam bukunya Whither Islam, ” Islam is andeed much more than a system of theology, it’s a complete civilization.” Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia adalah sebuah peradaban yang sempurna.

Hanya saja tidak semua masalah politik harus disampaikan di semua tempat dan waktu, apalagi dalam suasana kampanye. Para ahli ilmu politik membedakan antara high politics dan low politics. High politics atau politik tingkat tinggi justru dianjurkan dipelajari. Umat tidak bisa buta dari high politics, justru harus dipelajari, seperti di perguruan tinggi. Maka di sana didirikan Fakultas Sosial Politik, atau jurusan ilmu politik. High politics perlu disososialisasikan ke tengah umat. Satu di antaranya masalah persyaratan menjadi seorang pemimpin harus disosialisasikan pada umat sehingga mereka tercerahkan. Demikian halnya Fatwa Majlis Ulama yang diputuskan di Padang tentang persyaratan seorang pemimpin justru perlu diperkenalkan kapan dan di mana pun, bahkan sekalipun di masjid, yaitu:

  1. Beriman dan bertaqwa pada Allah swt.
  2. Siddiq,
  3. Amnah,
  4. Fatanah, dan
  5. Tablig.

Politik yang dilarang dalam masjid adalah low politics atau politik praktis bukan hanya di masjid, juga di instansi pemerintahan, dan di perguruan tinggi. Kenapa dilarang di masjid? Sebab jamaah yang datang di masjid memiliki aneka latar belakang organisasi sosial dan berbeda-beda kecenderungan pilihan politiknya. Bisa dibayangkan, jika masjid digunakan sebagai tempat berpolitik praktis atau berkampanye, pasti akan menimbulkan perpecahan di kalangan jamaah. Spanduk IMMIM sesuai hasil diskusi DPP IMMIM sebelumnya bahwa politik praktis atau berkampanye dan hoax dilarang di dalam masjid. Itulah yang melatarbelakangi DPP IMMIM mengeluarkan himbauan, “Demi Persatuan dan Kesatuan Bangsa, Diharapkan tidak Berpolitik Praktis dalam Masjid.” Masalah high politics silahkan diperkenalkan. Pembuatan spanduk tersebut tidak ada hubungannya dengan dukungan pada Capres no. 01 atau Capres no. 02, atau pun pemilihan legislatif. Silahkan pilih berdasarkan hati nurani masing-masing dan tidak bisa diintervensi siapa pun. Pembuatan spanduk semata-mata demi persatuan dan kemaslahatan umat. Menurut pandangan al-Syatibi, “Aina ma al-Maslahah fa Samma Hukumlah,” Di mana ada kemaslahatan di sanalah hukum Allah. Sedang menjaga persatuan dan kesatuan adalah kemaslahatan dalam berbangsa.

Sedang spanduk lain yang berbunyi, “Kami Pengurus Masjid Nurut Taqwa MENOLAK !!! Segala Bentuk Aktivitas Politik di dalam Masjid,” di luar sepengetahuan kami dan tentu saja di luar tanggung jawab kami. Kami juga memandang konten spanduk ini berlebihan. Spanduk itu seharusnya berbunyi, “….MENOLAK bentuk politik praktis dalam masjid.”

Demikian penjelasan kami dan terima kasih atas perhatiannya, semoga kita semua tetap dalam rida dan lindungan Allah swt.

Wassalam,

Makassar, 28 Maret 2018

Tinggalkan Balasan