20 TAHUN SEMA FAI UIM, PERLUKAH MANHAJ KADERISASI YANG BARU

Oleh : Ahmad julfikar (Pengurus SEMA FAI UIM)

Mahasiswa menjadi subjek yang selalu menarik untuk dibicarakan. Mendefinisikannya tidak akan cukup jika hanya melalui literatur saja, tidak muat dalam peristilahan kata baku dalam KBBI. Menguraikan mahasiswa juga mesti dimulai dari realitas peranan sosialnya, agar konsep tentang mahasiswa tidak berhenti pada pengertian kata, tidak melulu melihatnya berdasarkan sukuisme. Sejarah panjang bangsa ini menuliskan nama-nama kaum muda terhebat dan mereka adalah aktivis mahasiswa di masanya. Sebutlah beberapa tokoh besar revolusi awal kemerdekaan tahun 1945, mahasiswa muda yang lantang di tahun 1960-an hingga mereka yang tongkrongi MPR tahun 1998 diparuh akhir abad 19. Sejarah perkembangan gerakan mahasiswa Indonesia selalu menarik karena tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang Negara Indonesia.

Bacaan Lainnya

Istilah senat mahasiswa mulai populer di awal tahun 70-an, satu istilah yang diinisiasi oleh rezim orde baru dalam memecahkan gerakan perlawanan mahasiswa melalui Normalisasi Kebijakan Kampus dan Badan Kehidupan kampus, atau yang biasa dikenal dengan NKK/BKK. Kebijakan NKK/BKK itu adalah kebijakan presiden Soeharto untuk mengubah format organisasi kemahasiswaan dengan melarang mahasiswa terlibat dalam politik praktis.

Kampus oleh Suharto dianggap dapat mengancam stabilitas nasional, sehingga perlu dinormalkan. Maka Lahirlah kebijakan NKK/BKK sekaligus pelarangan organisasi intra universitas di tingkat perguruan tinggi. Kebijakan itu ditujukan untuk menutup ruang gerak dewan mahasiswa. Sejak 1978 itulah ketika NKK/BKK di terapkan di kampus, aktivitas mahasiswa kembali terkonsentrasi di himpunan jurusan dan fakultas masing-masing. Mahasiswa di pecah dalam bidang keilmuan masing-masing, kemudian muncullah ikatan senat mahasiswa ekonomi Indonesia (ISMEI), ikatan senat mahasiswa pertanian Indonesia (ISMPI) dan lainnya.

Dua puluh tahun yang lalu tepatnya tanggal 5 Mei tahun 2000, Senat Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Islam Makassar menjadi titik awal berkhidmatnya. Organisasi ini merupakan lembaga kaderisasi, sebagai wadah pengembangan keilmuan, berkreasi, dan menciptakan kader yang berkarakter keilmuan Ahlusunah Waljamaah. Maka dalam perjalanannya, hasil yang mesti dicapai dan di evaluasi adalah prestasi kaderisasi, distribusi kader secara dinamis, kapasitas kader secara ide/gagasan, keluasan wawasan dan cermat dalam pergaulan sosial  (kualitas kader), dan yang terakhir soal kuantitas jumlah kader yang tercatat dalam database administrasi organisasi.

Dalam dua dekade kehadirannya, evaluasi terbesar lembaga adalah seperti apa output kaderisasi selama ini, evaluasi selanjutnya mengenai kondisi kader dan lembaga saat ini. Masihkah lembaga dinamis dalam produksi dan distribusi kader ? Bagaimana dengan Manhaj kaderisasi selama ini ? apakah masih relevan dengan konteks kekinian ? Hal inilah yang perlu direfleksikan kembali.

Organisasi yang didirikan pada tahun 2000-an itu masih sama dengan yang ada saat ini, seperti eksistensial yang berupa perangkat dasar organisasi yang tetap statis (tidak berubah-ubah), tetapi disisi lain, lembaga saat ini sangat jauh berbeda bahkan tidak sama dengan yang terjadi diawal pendiriannya. Hal ini meliputi substansi pengalaman berlembaga, bahwa dinamika yang dihadapi sudah jauh lebih kompleks, jauh lebih luas dari sebelumnya. Pada ranah ini lembaga menjadi sangat dinamis (berubah-ubah). Menyadari hal ini, pola kaderisasi/ metode kaderisasi sangat perlu disesuaikan dengan perkembangan dinamikanya. Manhaj kaderisasi yang kemarin sudah baik dan kedepan harus ditingkatkan menjadi lebih baik lagi, agar lembaga tetap eksis dalam badai zaman.

Dua puluh tahun sudah melanglang buana, seumpama sebuah pohon sudah dapat bertahan hidup secara mandiri. Kurun waktu dua dekade tidak sedikit untuk menorehkan prestasi, menyulam benang kusut individu menjadi kader yang produktif, inovatif dan berdaya guna bagi agama, nusa dan bangsa. Segala keberhasilan tentu dicatat berulang, terulang, mengulang dan bahkan diulang oleh setiap kader pada zamannya. Setiap lembaga yang lahir tidak mungkin dapat bertahan seusia zaman tanpa keterlibatan para kader yang apik dan terampil. Setiap masa berproses lembaga pasti melahirkan kader-kader terbaik, setiap zaman pasti menciptakan kader, hanya saja tidak semua kader memiliki masa terbaik yang melahirkannya. Maka menjadi jelas bahwa berlembaga tidak menjadikan kita jumawa, pada kenyataannya lembaga tidak membutuhkan kita, karena tanpa kita pun masih banyak orang lain yang akan mengurus dan membesarkannya. Berlembaga lebih kepada kebutuhan kita dalam menguji potensi, merawat akal sehat, mengasah mental dan membentuk karakter yang lebih dibutuhkan lagi.

Problematika Internal Lembaga

Merefleksikan sejarah barangkali lebih mudah dalam sebuah organisasi ketimbang mendefinisikan identitas kader dalam dinamika lembaga. Siapakah yang layak disebut kader, apakah mereka yang selesai dengan jenjang kaderisasi formalnya ataukah mereka yang berkontribusi penuh disamping selesai jenjangnya dalam formal kaderisasi. Dalam lingkup SEMA FAI UIM sendiri tercatat bahwa setiap mahasiswa baru yang sudah ikut jenjang Aswaja Camp adalah kader, Aswaja Camp persis seperti kegiatan MAPABA di tingkatan PMII. Kegiatan ini menjadi format dasar dalam jenjang kederiasi internal. Format ini jelas tercantum dalam AD/ART organisai, selain Aswaja Camp masih ada jenjang kaderisasi selanjutnya seperti LDK dan LKMM. Problem internal ditingkatkan lembaga selama ini lebih kepada manhaj/pola/metode kaderisasi yang kurang efektif dalam produksi kader yang militan, terampil, dan memadai secara kapasitas keilmuan. Dari banyaknya mahasiswa yang di kader, hanya sedikit dari mereka yang ikhlas terbentur dalam dinamikanya, sehingga yang terbentuk dan tercatat menjadi kader yang di produksi minim secara jumlah. 

Problem lain adalah banyak kader tetapi menjadi kader hanya karena berpartisipasi dalam jenjang formalnya saja, tetapi secara kapasitas pengetahuan masih belum memenuhi standar. Hal ini bisa di evaluasi dalam bentuk paling sederhana berupa ujian penguasaan dan pemahaman atas materi dasar kaderisasi. Problem terbesar sebuah lembaga adalah kadernya sendiri, kaderlah yang akan menentukan arah dan warna pencapaian sebuah lembaga. Jika ingin mencari penyebab degradasi sebuah lembaga maka dapat diukur melalui kondisi kader dan format kaderisasinya.

Sisi lain yang menjadi problem dalam dinamika kelembagaan adalah sengitnya pertarungan paradigma Islam secara ideologis. Kaderisasi SEMA FAI UIM selain bertujuan menciptakan kader yang berkualitas juga kader yang ideologis, ideologis dalam konteks merawat dan menjaga tradisi ke-NU-an. Islam menjadi inspirasi atau pandangan Islam substantif-inklusif atau dalam bahasanya Gus Dur Islam dengan i-kecil (pandangan yang menjadikan Islam sebagai inspirasi, sumber nilai dan lainya) dan bertemu dengan paradigma Islam dengan I-besar (Islam menjadi aspirasi, menjadi hukum formal dalam kehidupan sosial). Padangan ke-islaman nahdliyin yang moderat bertemu dengan gagasan Islam puritan, paradigma konservatif dan sejenisnya dianut oleh beberapa mahasiswa fakultas agama Islam itu sendiri. Sebagian diantara mereka adalah orang yang pernah di kader, sementara sebagian lain adalah bukan.

Manhaj baru kaderisasi

Kehadiran organisasi sebagai salah satu pilihan bagi kaum milleneal tentu tidak diragukan lagi dalam era surganya informasi seperti ini. Eksistensi posistif organisasi menjadi pendorong bagi kaum milleneal untuk berkecimpung dan berkumpul di dalamnya. Manhaj kaderisasi harus dapat menjawab era milleneal. Kaderisasi harus menempatkan ancaman sebagai tantangan, hambatan sebagai kesempatan, dan menggunakan kemajuan sains dan IPTEK sebagai instrumen pengembangannya.

Dalam konteks ini, tantangan yang paling dekat adalah era disrupsi (fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata beralih ke dunia maya). Pada konteks ini pola kaderisasi lembaga tidak lagi mesti bertumpu pada pola kaderisasi tetap seperti Aswaja Camp dan lain-lain, tetapi juga harus ada alternatif lain untuk mengoptimalkan kaderisasi, bukan berarti program kerja tetap itu tidak penting melainkan itu tidak cukup. Kader-kader akan sulit memiliki daya saing, jika lembaga selalu menumpukkan pandangan pada kegiatan yang selalu serba administratif, melalukan proses kegiatan sekedar formalitas tanpa peduli output, dan pada akhirnya akan gagal memproduksi dan memaksimalkan perkembangan potensi kader.

Begitu derasnya arus informasi dan issu maupun wacana yang berkembang, lembaga harus cepat merespon dan menganalisis setiap perkembangan yang berlangsung. Struktur yang lambat dan stagnan akan membuat kader-kadernya terhambat dalam proses pengolahan dan analisis informasi. Kemudian arus informasi yang berbasis media massa harus diimbangi dengan kecakapan memilah, mengolah dan menganalisis, lalu hasil pengkajian tersebut diproyeksikan untuk mengembangkan kader dan lembaga. Kemudian lembaga juga mesti mampu bersinergi dengan ikatan organisasi sejenis (IOS) dalam forum yang lebih besar, agar pengalaman terlibat dalam forum-forum itu dapat digunakan dalam mengembangkan lembaga dan pola kaderisasi. Terakhir, mereka yang menjadi pengurus lembaga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif dalam mengurus dan mengembangkan organisasi dan segala ruang lingkupnya.

Tinggalkan Balasan