Ming. Okt 20th, 2019

NusaLine

Garis Info Nusantara

Marhaban 1 Safar 1441 H Berikut Doa dan Peristiwa Penting di Bulan Ini

2 min read

Jakarta, nusaline.com

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan bahwa bulan Safar 1441 Hijriah jatuh pada Senin, 30 September 2019, persisnya terhitung sejak Ahad malam. Ikhbar ini berdasar pada hasil observasi langit tim rukyat Lembaga Falakiyah PBNU pada Ahad (29/09/2019) petang di berbagai wilayah di Indonesia.

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri menyatakan dari aktivitas rukyat yang diselenggarakan, pihaknya berhasil melihat hilal setidaknya dari lima lokasi, antara lain Balai Rukyat Ibnu Syatir Pondok Pesantren Al Islam Joresan Ponorogo, MMU Sidogiri An-Nawawi Pasuruan, Pantai Semat Jepara, Desa Tunjungmekar Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan, dan Lantai 2 Masjid Hizbullah Tangerang. Lembaga Falakiyah PBNU sejak kemarin menginstruksikan kepada tim rukyat di berbagai daerah untuk aktif melaksanakan observasi dan melaporkannya ke pengurus tingkat pusat.

Lembaga yang fokus di bidang hisab dan rukyat ini juga mengimbau proses pemantauan hilal didahului dengan shalat hajat. “Terima kasih atas partisipasi dan kontribusi Nahdliyin,” kata Kiai Ghazalie usai melaporkan hasil rukyat kali ini dalam siaran resminya.

Bulan Safar merupakan bulan kedua setelah Muharram dalam kalender Hijriah. Penamaan bulan ini diambil dari kata “Shafr” yang berarti kosong. Menurut Ibnu Mandzur dalam Lisânul ‘Arab, hal ini dilatarbelakangi karena pada bulan tersebut orang-orang Makkah dalam sejarahnya berbondong-bondong pergi sehingga kota menjadi kosong. 

Habib Abu Bakar al-‘Adni dalam Mandzumah Syarh al-Atsar fî mâ Warada ‘an Syahri Safar mencatat bahwa Safar merupakan bulan terjadinya beberapa peristiwa bersejarah, antara lain pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Khadijah, pernikahan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah, perang pertama dalam Islam yaitu perang Abwa, penaklukan Khaibar, dan Rasulullah mengutus Usamah bin Zaid kepada pimpinan prajurit Rum tahun 11 Hijriah.

Dalam kitab yang sama, Habib Abu Bakar al-‘Adni menuliskan doa yang bisa dibaca pada bulan Safar ini agar senantiasa mendapat perlindungan dari Allah subhanahu wata’ala. Isi doa tersebut cukup panjang, memuat puji-pujian kepada Allah dan dominasi permohonan akan perlindungan dari berbagai keburukan pada bulan dan tahun ini.

Pada zaman jahiliah, berkembang anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau dikenal dengan istilah tasyâ-um. Bulan yang tidak memiliki kehendak apa-apa ini diyakini mengandung keburukan-keburukan sehingga ada ketakutan bagi mereka untuk melakukan hal-hal tertentu. Islam datang merevisi anggapan ini. (NU Online)

Tinggalkan Balasan