Sel. Jul 16th, 2019

NusaLine

Garis Info Nusantara

PBNU: ‘Hubbul Wathan minal Iman’ Selesaikan Hubungan Agama dan Negara

2 min read

Jakarta, nusaline.com

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa jargon hubbul wathan minal iman (nasionalisme bagian dari iman) yang dicetuskan pendiri NU Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari membuat hubungan antara agama dan negara di Indonesia tidak lagi dipersoalkan.

“Kita bangsa Indonesia bersyukur karena telah selesai dalam memahami hubungan agama dan negara,” kata Kiai Said di Hotel Mulia Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (03/07/2019).

Menurut Kiai Said, upaya tidak membenturkan antara keduanya sangat penting karena hingga kini, tidak sedikit negara di Timur Tengah yang belum mampu menyelesaikan konflik dalam negeri.

Sejumlah tokoh yang ada disebutnya tidak mampu menggabungkan antara jiwa religiusitas dan nasionalismenya. Ia mencontohkan bagaimana nama-nama seperti Syekh Yusuf Qardhawi, Sayyid Qutb, dan dan Sayyid Sabiq merupakan seorang ulama, tapi tidak memiliki spirit nasionalis.

Sebaliknya, sejumlah tokoh memiliki jiwa nasionalis, seperti Saddam Husein dan Muammar Khadafi, tetapi bukan ulama.

Kondisi berbeda terjadi di Indonesia, yakni seorang ulama, tetapi juga memiliki spirit nasionalisme yang tinggi. Selain Mbah Hasyim Asy’ari, nama-nama lain yang tak kalah penting seperti KH Ahmad Dahlan, KH Agus Salim, dan KH Sirojuddin Abbas.

“Semuanya nasionalis ulama. Ulama nasionalis,” jelasnya.

Kiai alumnus Universitas Ummul Qura Mekkah, Arab Saudi itu pun membantah tesis ilmuwan politik dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, Samuel P Huntington yang menyatakan dalam bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996) bahwa setelah perang dingin, agama dan kebudayaan menjadi sumber konflik.

Menurutnya, masyarakat Indonesia mampu menghormati kebudayaan, menghargai perbedaan, dan bersikap toleran terhadap agama, keyakinan, dan sejumlah keragaman yang ada di Indonesia. Pasalnya, sambung Kiai Said, semuanya saudara sebangsa dan setanah air.

“Semuanya saudara, kita ini satu bangsa,” ucapnya. 

Kiai yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ini pun menegaskan bahwa Indonesia bukan negara agama atau negara kafir, melainkan negara kesepakatan karena dibentuk oleh semua komponen anak bangsa.

“Indonesia merekrut semua komponen menjadi satu saudara, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa,” ucapnya. (NU Online)

Tinggalkan Balasan