Sel. Jul 16th, 2019

NusaLine

Garis Info Nusantara

Pesantren Bukan Penjara

2 min read

Kota Banjar, nusaline.com

Selama ini, anggapan orang mengenai pondok pesantren sangatlah beragam. Banyak orang yang beranggapan baik tentang pesantren, namun ada juga yang sebaliknya. Namun, sejatinya pesantren bukanlah penjara. 

“Pesantren itu bukan penjara. Saya juga pernah mesantren kok,” ungkap M Ahsin Mahrus saat pengajian bakda maghrib bersama santri putri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kota Banjar, Jawa Barat, Senin (24/06/2019).

Menurut pria yang akrab disapa Gus Ahsin ini, di dalam pesantren kita bisa bertemu dengan ratusan teman. Setiap teman berbeda karakter dan cara bersikap. Hal demikian, menurutnya merupakan suatu pelajaran bagi kita para santri untuk saling mengenal satu sama lain. 

“Dalam kata lita’arafu itu seharusnya kita amalkan untuk saling mengenal teman dari berbagai daerah,” ungkapnya setelah membacakan QS Al-Hujarat ayat 13.

Selain itu, menantu KH Muin Abdurrohim, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kota Banjar ini juga menceritakan pengalamnnya ketika ia belajar di pesantren dan kuliah di Timur Tengah.

“Teman saya semuanya bermacam-macam. Dari kulit yang terputih sampai yang terhitam semuanya ada,” paparnya sontak membuat tertawa ratusan santriwati.

Dan semua itu, lanjutnya akan berkumpul dalam satu kelas. “Di situlah kita harus bersaing untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Di situlah kita harus mengharumkan nama bangsa Indonesia. Kita harus menunjukan bahwa  orang Indonesia itu pintar rajin dan mampu bersaing dengan mahasiswa lain dari belahan dunia mana pun,” lanjutnya.

Bayangkan saja, kata Gus Ahsin, jika ada satu saja mahasiswa asal Indonesia yang malas, atau nilainya kurang dari rata-rata maka dosen akan bertanya dan memanggilnya dengan panggilan Indonesia. Bukan nama mahasiswa tersebut. Yang malas satu mahasiswa yang kena satu Indonesia. 

Selain itu, di tahun ajaran baru ini ia menyampaikan selamat datang kepada santri baru sekaligus mengajarkan untuk selalu bersyukur dengan makanan yang ada. “Saya dulu juga merasakan bagaimana rasanya kangen masakan Indonesia,” katanya. “Kalian gak tahu nilainya makanan kalau tidak tahu bagaimana susahnya mencari makanan tersebut,” tambahnya. 

Ketua PCINU Suriah itu melanjutkan ceritanya bahwa saat jauh dari tanah air ia akan kangen rasa masakan khas tanah air. Ia juga menceritakan bagaimana susahnya mencari sayur kangkung yang sa’at rindu makanan khas Indonesia. 

Dalam motivasinya, ia juga melarang santri untuk menyerah. “Jangan menyerah dan yakin Allah berikan yang terbaik buat kita. Jangan pernah katakan aku tidak mampu,” tukasnya. (NU Online)

Tinggalkan Balasan