Rab. Jun 26th, 2019

NusaLine

Garis Info Nusantara

Kiai Said: Ma’rifat dan Mahabbah Menurut Sufi Dzunnun Al-Misri

2 min read

Jakarta, nusaline.com

Pengasuh Pesantren Luhur al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan KH Said Aqil Siroj mengemukakan tentang pembagian ma’rifat dan makna mahabbah menurut Sufi besar abad ketiga hijriah Dzun Nun al-Mishri.

“Ma’rifat menurut Syekh Dzun Nun al-Mishri ada tiga macam,” kata Kiai Said pada acara Kiswah Ramadhan yang ditayangkan TV9 pada Sabtu (18/05/2019) yang dirilis NU Online.

Pertama, ma’rifatnya orang mu’min biasa. Kedua, ma’rifatnya seorang filosof dan mutakallimin yang mencari Allah dengan perjalanan akalnya. Ketiga, para wali atau hamba yang mencari Allah dengan pedoman cinta, yakni yang diutamakan adalah ilham atau faidah.

“Sudah barang pasti (jenis) makrifat yang ketiga inilah ma’rifatnya para auliya yang paling tinggi dan bernilai,” kata Kiai Said.

Ia menjelaskan, jenis ma’rifat yang ketiga ini tidak bisa dicari atau didapatkan melalui belajar, baca buku, atau istidlal (mencari dalil-dalil), tetapi dari ilham atau bisikan suara halus yang ada dalam hati wali, atau juga cahaya yang bersinar yang dihembuskan Allah kepada hati hamba yang dikehendakinya.

Oleh karena itu, sambung Kiai Said, seorang waliyullah yang mendapatkan ma’rifat secara langsung dari Allah, maka keyakinan atau keimanan yang ada padanya tidak dapat diragukan.

“Jadi imannya para wali, yakinnya para wali tidak ada sedikit pun keraguan,” ucapnya.

Selanjutnya tentang mahabbah (cinta). Menurut Dzunnun al-Mishri, kata Kiai Said, cinta yaitu hubungan timbal balik antara hamba dan Allah, sehingga seorang hamba yang mencintai Allah, maka akan kembali dicintai Allah.

“Jadi seorang hamba yang muhib (mencintai) akan menjadi seorang hamba yang mahbub (dicintai),” ucapnya.

Menurutnya, cinta sufi yang seperti ini bisa menjadikannya merasa eksistensinya menyatu dengan Allah (bukan dalam artian fisik) atau melebur di dalam eksistensi wujud Allah, seperti satu tetes air yang diteteskan pada laut, maka air yang satu tetes tersebut melebur.

“Lebur, hilang, hancur, eksistensinya sudah tidak ada tidak kelihatan,” ucapnya. (usm/NU Online)


Tinggalkan Balasan