Sel. Jul 16th, 2019

NusaLine

Garis Info Nusantara

Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian I)

3 min read

nusaline.com – Umat Islam sangat terkejut dan terguncang ketika Nabi Muhammad saw. wafat pada 12 Rabiul Awwal tahun ke-11 H atau 3 Juni 632 M. Bahkan diantara mereka ada yang tidak percaya kalau Nabi Muhammad saw. telah berpulang kehadirat Allah. Hingga akhirnya Sayyidina Abu Bakar berdiri di tengah-tengah umat Islam dan menyampaikan pidato tentang berita sedih itu.
“Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya pun telah berlalu rasul-rasul. Apabila dia mati atau terbunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barang siapa balik ke belakang sama sekali tidak akan merugikan Allah, tetapi Allah akan memberi pahala kepada orang-orang yang bersyukur,” kata Sayyidina Abu Bakar mengutip QS. Ali-Imran ayat 144 untuk meyakinkan para sahabat yang tidak percaya dengan meninggalnya Nabi Muhammad saw.
Umat Islam bak ‘anak ayam kehilangan induknya’ sepeninggal Nabi Muhammad saw. Mereka kebingungan karena kehilangan panutan, orang yang selama ini menjadi sumber suri teladan. Tidak ada seseorang yang menjadi pemegang otoritas tertinggi bagi umat Islam, baik dalam hal keagamaan maupun sosial-politik kenegaraan. 
Tidak berselang lama setelah kabar Nabi Muhammad saw. wafat, timbul kasak-kusuk siapa yang bakal menggantikan ‘peran’ Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin tertinggi umat Islam. Hal itu membuat umat Islam terpolarisasi menjadi dua kubu; kelompok Muhajirin (umat Islam Makkah yang hijrah ke Madinah) dan kelompok Anshar (umat Islam asli Madinah). Masing-masing merasa paling berhak menjadi pengganti Nabi Muhammad saw. 
Elit umat Islam, dari kalangan Muhajirin dan Anshar, akhirnya bermusyawarah di sebuah forum di Saqifah Banu Sa’idah untuk menentukan siapa yang paling berhak pengganti Nabi Muhammad saw. Dari Muhajirin muncul beberapa nama kandidat pengganti Nabi Muhammad saw. seperti Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, dan Sayyidina Abu Ubaidah bin Jarrah. Sementara dari Anshar ada Sa’ad bin Ubadah. 
Kedua kubu keukeuh menginginkan kalau pengganti Nabi Muhammad saw. harus dari kalangan mereka. Singkat cerita, setelah terjadi musyawarah yang sangat tajam dan keras antara kedua kubu umat Islam tersebut di Saqifah Bany Sa’idah, akhirnya ditetapkan bahwa yang menjadi pengganti Nabi Muhammad saw. adalah Sayyidina Abu Bakar. 
Sayyidina Umar bin Khattab meminta Sayyidina Abu Bakar membentangkan tangannya untuk dibaiat. Sayyidina Umar bin Khattab kemudian menyampaiakan baiatnya dan menjadi orang pertama yang berikrar atas pengukuhan Sayyidina Abu Bakar. Hal itu dilakukan agar perselisihan dan pertentangan di tubuh umat Islam tidak menjadi berkepanjangan.
“Abu Bakar, bukankah Nabi menyuruhmu memimpin Muslimin bersembahyang? Engkaulah penggantinya (khalifahnya). Kami akan mengikrarkan orang yang paling disukai oleh Rasulullah di antara kita semua ini,” kata Sayyidina Umar, dikutip dari buku Abu Bakar as-Siddiq; Sebuah Biografi (Muhammad Husain Haekal, 2004).
Para sahabat Nabi yang hadir di Saqifah Banu Sa’idah kemudian mengikuti Sayyidina Umar bin Khattab. Satu persatu mereka memberikan ikrar kepada Sayyidina Abu Bakar dan mengakuinya sebagai pengganti (khalifah) Nabi. Sementara itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, dan beberapa keluarga lainnya tengah mengelilingi jenazah Nabi Muhammad saw. ketika Sayyidina Abu Bakar dilantik menjadi Khalifah Nabi di Saqifah Banu Sa’idah. Sehingga Sayyidina Ali belum memberikan baiatnya. 
Esok harinya, setelah jenazah Nabi Muhammad saw. dimakamkan, umat Islam ramai-ramai membaiat Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah Nabi. Setelah dibaiat secara umum, Sayyidina Abu Bakar menyampaikan pidato di hadapan umat Islam. Salah satu poin pidatonya adalah dia meminta kepada seluruh umat Islam agar menaatinya selama dirinya taat kepada Allah dan Rasulullah. Namun bila dirinya melanggar perintah Allah, maka umat Islam tidak perlu lagi setia kepadanya. 
Yang menjadi pertanyaan, apa benar Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak bersedia atau terlambat memberikan baiat kepada Sayyidina Abu Bakar? Atau Sayyidina Ali langsung memberikan ikrar bersama dengan umat Islam lainnya ketika Sayyidina Abu Bakar menyampaikan pidatonya yang pertama sebagai Khalifah Nabi? (A Muchlishon Rochmat)
Bersambung…

Sumber : Nu Online

2 thoughts on “Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian I)

Tinggalkan Balasan