Sen. Agu 26th, 2019

NusaLine

Garis Info Nusantara

Buka Raker PD Pontren, Dirjen Pendis Harap Pesantren Ikut Menyongsong Era 4.0

2 min read

Makassar, nusaline.com

Memasuki era millenium 4.0 menjadi tantangan pondok pesantren saat ini untuk mempersiapkan agar mampu membuka diri menerima realitas kemajuan tekhnologi yang semakin berkembang pesat, jika Pondok Pesantren tidak melibatkan diri di kontestasi zaman ini, maka dikhawatirkan era 4.0 ini akan diambil alih oleh kalangan lain.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Jendral Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, Phd. saat membuka secara Rapat Kerja Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD. Pontren) Kanwil Kemenag Prov. Sulsel di Hotel Kenari Tower Makassar Kamis (11/4/19)

Dalam Arahannya, Prof. Kamaruddin Amin juga menggambarkan bahwa Manusia saat ini hidup di dua dunia yakni Dunia Virtual atau Digital dan Dunia Realitas, dan pola interaksinya sangat massif dan dinamis sehingga pola hidup seperti ini sangat rentan dengan implikasi negative khususnya yang terkait dengan perubahan prilaku social masyarakat, meskipun memiliki banyak sekali dampak positif, karenanya interaksi di ruang publik di alam virtual ini harus dikuasai oleh generasi yang memiliki basis pendidikan agama yang berbasis nilai moralitas sehingga kontestasi Dialektika yang ada di dunia virtual bisa dimenangkan dan outputnya akan memberikan pengaruh positif di tengah umat dan masyarakat.

“Salah satu penyebab Tumbangnya Negara negara di Jazirah Arab sana yg dikenal dengan istilah “Arab Spring” salah satunya karena Ulama dan Cendekia mereka terlalu larut mengabiskan waktunya berkutat di lingkungan kampus dan meja akademik saja, sehingga Area publik bagi umat kosong dan diisi oleh kelompok yang memiliki kepentingan negatif yang tidak segan segan menggunakan bungkus agama sebagai alat propagandanya” tambah Kamaruddin Amin.

Lebih lanjut Alumni Pesantren As’adiyah ini menambahkan, kita di Indonesia yang dikenal memiliki watak beragama yang tawasuth, tasammuh, dan washatiyah (moderat) harus mewaspadai gejala global ini sehingga pertahanan terhadap ajaran umat kita di indonesia kuat secara ideologis, dengan system pendidikan keagamaan yang Inklusif dan berbasis nilai-nilai pluralitas sebagaimana yang telah diterapkan sejak dahulu oleh Lembaga pendidikan keagamaan oleh Ormas Islam yang Asli Made in Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, NW, Persis, dan sebagainya.

“Pertahankan, Bangun dan kembangkan kembali budaya membahas dan menghaji kitab kitab klasik Islam (turats) yang menjadi tradisi keilmuan pesantren yang berbasis tafaqqahuu fiddin. Pesantren adalah islamic base civil society yang menjunjung tinggi keragaman nilai yang hidup di masyarakat”. Harapnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang PD. Pontren Kanwil Kemenag Sulsel H. Fathurrahman melaporkan bahwa Tujuan Raker ini dilaksanakan untuk Reevaluasi hasil hasil kegiatan pada tahun 2018 dan untuk memantapkan program kerja PD. Pontren Sulsel di tahun 2019 ini.

Kegiatan ini dihadiri oleh 80 peserta yang terdiri dari Para Kepala Seksi baik di Lingkup Kanwil maupun di jajaran Kemenag Kabupaten Kota se Sulsel, Pimpinan Pondok Pesantren dan Diniyah Takmiliyah se-Sulsel, dan sejumlah pelaksana pada Bidang dan Seksi PD. Pontren se Sulsel rencananya akan berlangsung selama 3 (tiga) hari yakni dari tanggal 11 – 13 April 2019. (usm)

Tinggalkan Balasan