Sel. Jul 16th, 2019

NusaLine

Garis Info Nusantara

Tentang Isra’ Mi’raj, Gus Yusuf: Iman Tidak di Batok Kepala Tapi di Dada

2 min read

KH Yusuf Chudlori

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj atau perjalnan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidl Aqsha, kemudian melanjutkan ke Siedratul Muntaha adalah benar-benar ujian keimanan terberat bagi sahabat Nabi saat itu.

Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi ini hanya dilakukan dalam satu malam yang secara logika akal manusia, tidak mungkin bisa dilakukan oleh siapapun, dengan cara dan alat apapun.

“Iman itu tidak di batok kepala tapi di dada dan kekuasaan Allah tidak bisa dan tidak perlu dimasukkan logika. Yang terpenting adalah iman (percaya),” demikian tegas Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Selasa (2/4) seperti yang dilansir NU Online.

Karena mengandalkan otak dan retorika akal inilah yang akhirnya membuat beberapa sahabat Nabi Muhammad kala itu murtad (keluar dari Islam) setelah mendengar Nabi mengisahkan perjalanan Isra’ Mi’rajnya.

Bagi sahabat yang terpilih dan memiliki keimanan kuat, lanjut Gus Yusuf, mereka semakin yakin dan percaya kepada Nabi. Keimanan para sahabat tak tergoyahkan karena mereka benar-benar yakin jika Allah yang berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin terjadi.

“Bersyukur sekali kita umat Islam zaman sekarang. Walau tidak berjumpa langsung dengan Nabi dan tidak mendengar langsung hal ini dari Nabi namun masih percaya dan iman. Ini murni hidayah Allah dan ini adalah nikmat terbesar,” tegasnya.

Jadi lanjut Gus Yusuf, hikmah yang bisa diambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah rasa syukur kita diberikan keimanan dengan percaya terhadap perjalanan suci Nabi ini. Kita masih dikaruniai dengan keimanan tanpa dipengaruhi oleh logika.

“Jika masih mengandalkan logika, keimanan pastinya akan diotak atik. Umpamanya sampai ada kalimat ‘saya percaya Isra’ Mi’raj, tapi kayaknya jasad Nabi tidak ikut. Hanya ruhnya saja’. Ini namanya imam masih dengan syarat,” tegasnya.

Yang dinamakan Imam menurut Gus Yusuf tidak dengan menggunakan syarat. “Iman kok masih dengan syarat. Bukan iman namanya,” lanjutnya.

Selain ujian keimanan, hikmah Isra’ Mi’raj adalah perintah melaksanakan shalat lima waktu. Pada awalnya Allah SWT memerintahkan umat Nabi Muhammad melaksanakannya selama 50 waktu dalam sehari semalam. Namun setelah dimusyawarhkan dengan Nabi terdahulu seperti Nabi Musa kemudian menyampaikan keluh kesahnya kepada Allah, akhirnya shalat diwajibkan hanya lima waktu.

“Inilah (Nabi Muhammad) figur seorang pemimpin yang tidak mementingkan diri sendiri namun memikirkan umatnya,” jelas Gus Yusuf.

Allah saja yang maha kuasa masih memberikan kesempatan dengan bermusyawarah untuk memutuskan masalah, apalagi manusia.

“Apapun di kehidupan ini mari mengedepankan musyawarah. Seperti Pemilu juga merupakan bentuk musyawarah yang semuanya harus konsisten terhadap hasil keputusan yang disepakati,” pungkasnya. (Red/Muhammad Faizin/NU Online).

Tinggalkan Balasan