Sen. Agu 26th, 2019

NusaLine

Garis Info Nusantara

Kiai Said Ungkap Manfaat di Balik Budaya Makan Barengnya Santri

2 min read

Jombang, nusaline.com

Tidur bareng di satu kamar pondok sudah bukan hal yang asing bagi santri. Bahkan bisa dibilang sudah menjadi budaya santri. Sesama santri juga saling menerima, begitu juga dengan budaya makan mereka.
Budaya ini menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj memiliki manfaat tersendiri, yakni akan menimbulkan kecerdasan secara emosional.
“Para santri biasa makan bareng, tidur bareng, nanti akan melahirkan kecerdasan emosional,” katanya saat menyampaikan ceramah agama di peringatan puncak Haul Mbah Bisri Syansuri, Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis  (7/3) malam.
Dengan budaya tersebut, para santri bisa saling memahami karakter antar sesama santri yang tentu sudah berbeda, namun hidup dengan rukun tanpa perselisihan. Mereka berinteraksi setiap harinya dengan tetap riang gembira. “Santri tahu caranya bergaul, tahu caranya berteman,” ujar kiai yang kerap disapa Kang Said ini.
Begitu juga saat harus bersaing dalam keadaan atau momentum tertentu. Para santri yang sudah memiliki kecerdasan emosional akan lebih menggunakan cara-cara yang baik. “Santri juga tahu caranya bersaing yang jentel,” tuturnya.
Kecerdasan emosional itu juga menurutnya penting sebagai bekal ketika berkecimpung di tengah masyarakat kelak. Mereka akan niscaya paham bagaimana cara berinteraksi yang baik dengan masyarakat. 
Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Akhyar yang juga hadir di acara Haul Mbah Bisri mengajak kepada keturunan (dzurriyah) almaghfurlah KH Bisri Syansuri untuk turut menciptakan situasi dan kondisi yang tenteram dan menyejukkan di tengah kondisi yang dinilai kerap kali terjadi saling menyulut kebencian, tebar fitnah di antara manusia.
Kiai Miftah meyakini, dzurriyah Mbah Bisri Syansuri bisa menciptakan situasi yang ia harapkan, lantaran sudah memiliki bekal keilmuan yang mapan juga ada garis keturunan yang jelas. Ini menurutnya tentu lebih tahu bagaimana sosok komplit yang dimiliki Mbah Bisri, termasuk bagaimana situasi-situasi yang diciptakan saat tokoh NU itu masih hidup.
“Kepada para dzurriyahnya, karena sudah punya bekal, punya datuk yang shaleh untuk bisa memberikan suasana yang sejuk, ya yang mirip-mirip seperti zaman dulu saat beliau masih hidup,” ucapnya.
Ia menilai, saat ini sudah terjadi zaman yang salah kaprah, orang yang shaleh seringkali dituduh tidak benar dan orang yang bisa dipercaya dianggap pengkhianat. Sementara sebagian dari manusia ikut mengkampanyekan situasi ini kepada publik luas. (Syamsul Arifin/Muiz)/nu.or.id

Tinggalkan Balasan